JAKARTA — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengaktifkan enam bandara alternatif untuk mengantisipasi penumpukan penumpang di tengah penutupan sementara sejumlah bandara yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Keenam bandara itu dapat digunakan maskapai sesuai kebutuhan dan kondisi operasional masing-masing.
Enam bandara alternatif yang disiapkan yakni Bandara Juanda di Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo di Jawa Tengah, Bandara Internasional Yogyakarta dan Bandara Adisutjipto di DI Yogyakarta, Bandara Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, serta Bandar Udara Internasional Kertajati di Jawa Barat.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah memutuskan penutupan operasional bandara yang terdampak masih berlanjut hingga pukul 18.00 WIB. Sebaran abu vulkanik terpantau pada dua lapisan ketinggian, yakni hingga 15.000 kaki dan 50.000 kaki.
Bandara yang masih ditutup antara lain Bandara Soekarno-Hatta di Banten, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Budiarto di Banten, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Pondok Cabe di Banten, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat. Sementara itu, Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan, telah beroperasi normal sejak pukul 09.00 WIB.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mendorong maskapai menggunakan bandara alternatif tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang. Hal ini disampaikannya saat memantau langsung Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (7/9).
"Kami mendorong agar maskapai dapat menggunakan bandara tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang. Ini yang kita harapkan supaya pengaturan penumpang bisa optimal," kata Dudy.
Penggunaan bandara alternatif tetap menyesuaikan kondisi operasional, kesiapan bandara, rute penerbangan, serta keputusan masing-masing maskapai. Kemenhub terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, dan instansi terkait.
Dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap operasional penerbangan tercatat sekitar 2.300 penerbangan dan 270.337 penumpang. Data tersebut merupakan akumulasi sejak 5 September 2026, mencakup penerbangan yang mengalami pembatalan, penundaan, maupun pengalihan.
Pada bandara yang ditutup sementara, tercatat 1.397 penerbangan dengan sekitar 177.579 penumpang terdampak. Adapun pada bandara lain yang penerbangannya terdampak akibat penyesuaian rute, tercatat 922 penerbangan dengan sekitar 92.758 penumpang terdampak.
Kemenhub mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan udara untuk memastikan status penerbangannya kepada maskapai sebelum menuju bandara. Penumpang yang terdampak penutupan diminta mengikuti arahan dan kebijakan maskapai terkait perubahan jadwal maupun pengalihan penerbangan.
"Kami mengapresiasi masyarakat yang telah tertib mengikuti aturan dan arahan terkait kondisi penerbangan saat ini. Dukungan dan kepatuhan masyarakat sangat membantu proses penanganan kondisi ini, khususnya dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan," ujar Dudy.
Status operasional bandara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik. Kemenhub meminta masyarakat memantau kanal informasi resmi Kemenhub, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, serta informasi dari masing-masing maskapai.
Menhub menambahkan, persiapan penerbangan akan segera dilakukan begitu bandara dinyatakan bisa dibuka kembali. Sejumlah upaya persiapan masih akan dilakukan setelah bandara dibuka dan sebelum siap dioperasikan kembali.