MATARAM — Krisis air bersih yang melanda Gili Trawangan sejak Kamis (3/9/2026) pukul 00.00 Wita memaksa industri pariwisata setempat mengambil langkah darurat. Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB sekaligus Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan, Lalu Kusnawan, menyebut pasokan air berhenti total dan berdampak pada seluruh hotel serta akomodasi di pulau tersebut.
"Kita sampai pakai air kolam," ujarnya kepada awak media, Sabtu (5/9/2026).
Keluhan tamu terus bermunculan sejak pasokan terhenti. Sebagian wisatawan yang sebagian besar merupakan turis mancanegara memilih meninggalkan tempat menginap lebih awal dari jadwal.
"Sudah banyak tamu komplain, check-out. Sekitar 300 tamu early check-out yang terdeteksi," kata Lalu Kusnawan.
Jumlah tersebut merupakan data sementara yang dihimpun asosiasi dari para pelaku usaha. Angka kerugian dan dampak sebenarnya diperkirakan bakal jauh lebih besar apabila pasokan air tidak segera pulih, terlebih aktivitas wisata di Gili Trawangan sedang berada pada titik puncak kunjungan.
Lalu Kusnawan menegaskan persoalan ini bukan semata-mata kerusakan teknis instalasi. Ia mengaitkan matinya pasokan air dengan proses perizinan pengoperasian seawater reverse osmosis (SWRO), sistem yang mengolah air laut menjadi air tawar dan menjadi tulang punggung penyediaan air di pulau kecil tersebut.
Pelaku usaha, lanjutnya, mendukung penuh larangan penggunaan sumur bor demi menjaga kelestarian lingkungan. Namun, kebijakan tersebut harus diiringi jaminan layanan air yang memadai dari pemerintah.
"Apa pun caranya, air harus hidup. Tidak peduli bagaimana caranya," tegasnya.
Ia mempertanyakan kompensasi atas kerugian yang dialami pelaku usaha dan rusaknya pengalaman wisatawan akibat terhentinya layanan dasar tersebut.
"Kalau industri dan kami rugi, apa pemerintah tanggung? Berapa potential loss kita? Bagaimana tanggung jawab pemerintah?" katanya.
Menurutnya, selama ini pelaku usaha mengeluarkan biaya promosi secara mandiri untuk membangun citra Gili Trawangan sebagai destinasi kelas dunia. Kegagalan penyediaan air dinilai merusak reputasi yang telah dibangun susah payah tanpa subsidi pemerintah.
"Biaya promosi destinasi itu masing-masing dari kita keluarkan. Masing-masing kita promosi sendiri tanpa disubsidi pemerintah," ujarnya.
Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung membenarkan adanya gangguan layanan di Gili Trawangan. Gangguan disebut terjadi di tengah penyesuaian operasional SWRO yang meliputi aspek teknis, perizinan, dan pengendalian lingkungan.
Penanganan tengah dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, PT Tiara Cipta Nirwana, dan instansi terkait. Namun, Perumda belum dapat memastikan kapan layanan kembali normal.
Sebagai langkah antisipasi, Perumda menyiapkan distribusi air darurat yang diprioritaskan bagi masyarakat, fasilitas kesehatan, fasilitas publik, dan kebutuhan sanitasi. Titik serta jadwal penyaluran akan diumumkan setelah seluruh persiapan rampung.
Lalu Kusnawan mengaku telah berkomunikasi dengan Gubernur NTB dan pihak terkait. IHGMA mempertimbangkan membawa persoalan ini ke pemerintah pusat apabila tidak segera ada kepastian penyelesaian dari pemerintah daerah.