SUMBAWA BARAT — Tidak semua bijih yang digali dari perut bumi langsung diolah. Sebagian material ditempatkan di stockpile, hamparan luas yang berfungsi sebagai penyangga stok. Namun, selama menunggu giliran, bijih tidak diam. Paparan udara dan kelembapan memicu oksidasi yang mengubah karakter mineral, membuat proses pemisahan tembaga melalui flotasi menjadi jauh lebih sulit.
Dampaknya, sebagian kandungan tembaga yang seharusnya menjadi produk konsentrat berisiko tertinggal bersama tailing alias material sisa. Di titik inilah tim Metallurgy AMMAN memulai riset panjang untuk menjawab satu pertanyaan krusial: bagaimana mengembalikan nilai dari bijih yang telah berubah karena waktu?
Perjalanan riset selama kurang lebih dua tahun itu melibatkan seorang putra daerah asal Sumbawa Barat, Didit Ardi Maulana. Bergabung sejak Desember 2022, Didit mengaku ketertarikannya pada dunia pengolahan mineral tumbuh sejak kecil karena akrab dengan aktivitas pertambangan di sekitar tempat tinggalnya.
"Dari situ saya mulai tertarik memahami bagaimana mineral diolah hingga dapat memberikan nilai tambah," kata Didit saat ditemui di area tambang Batu Hijau.
Ketertarikan masa kecil itu kini menemukan bentuk konkret. Didit dan tim tidak sekadar menjalankan proses yang sudah ada, tetapi berusaha memahami apa yang berubah pada bijih dan bagaimana proses pengolahan dapat disesuaikan dengan perubahan tersebut.
Dalam pengolahan bijih tembaga, recovery menjadi indikator penting. Angka ini menunjukkan seberapa besar kandungan tembaga dalam bijih yang berhasil diambil menjadi produk. Semakin tinggi recovery, semakin banyak tembaga yang dimanfaatkan dan semakin sedikit mineral bernilai yang hilang bersama tailing.
Peningkatan recovery bukan sekadar mengejar angka produksi. Untuk jumlah bijih yang sama, jika lebih banyak tembaga yang berhasil diperoleh, maka lebih banyak nilai yang dihasilkan tanpa harus menambah volume material yang ditambang. "Ketika mineral mengalami oksidasi, proses pengambilannya bisa menjadi lebih menantang," ujar Didit.
Pekerjaan seorang metalurgis di sinilah menjadi seperti membaca bahasa yang tidak terlihat. Bijih tidak berbicara, tetapi ia meninggalkan jejak—dan jejak itulah yang berhasil diterjemahkan oleh tim AMMAN menjadi inovasi yang mendunia.