MATARAM — BMKG Stasiun Klimatologi NTB merilis peta terbaru peringatan dini kekeringan meteorologis yang menempatkan sejumlah kecamatan di Pulau Lombok dan Sumbawa pada status Awas. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari minimnya curah hujan yang berada di angka 0–10 milimeter per dasarian, serta penguatan dinamika atmosfer global yang signifikan.
Indeks El Niño di wilayah Nino3.4 telah mencapai +2.45, level yang dikategorikan sangat kuat. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini netral berpeluang beralih ke fase positif mulai September hingga Desember 2026, memperparah kondisi kekeringan di wilayah NTB.
Berdasarkan analisis iklim Dasarian I Agustus 2026, BMKG memetakan wilayah dengan tingkat ancaman tertinggi. Status Awas ditetapkan di tujuh kabupaten/kota, meliputi:
Adapun status Siaga tersebar di sejumlah kecamatan di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Kabupaten Bima. Level Waspada juga diberlakukan untuk beberapa wilayah seperti Gunung Sari di Lombok Barat, Sembalun di Lombok Timur, serta Alas dan Rhee di Sumbawa.
Tim prakirawan BMKG NTB menyebut potensi hujan pada periode 11–20 Agustus 2026 di seluruh wilayah NTB diperkirakan kurang dari 10 persen. Kondisi ini berbanding lurus dengan sifat hujan yang didominasi kategori Bawah Normal (BN).
“BMKG memprediksi El Niño 2026 akan mencapai level sangat kuat. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berstatus netral (+0.715) berpeluang beralih menuju fase IOD Positif mulai September hingga Desember 2026,” jelas tim prakirawan BMKG NTB dalam keterangan resminya.
BMKG mengingatkan penetapan status Siaga hingga Awas harus diantisipasi dengan langkah penanganan konkret oleh pemerintah daerah. Masyarakat diminta hemat dalam mengelola penggunaan air guna mengantisipasi krisis air bersih yang kian meluas di tengah puncak musim kemarau.
Potensi kebakaran hutan, lahan, serta permukiman menjadi ancaman serius akibat vegetasi yang mengering dan cuaca terik. Warga diimbau tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan maupun meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Masyarakat, khususnya petani, diharapkan memantau perkembangan informasi iklim resmi untuk meminimalkan potensi kerugian dalam perencanaan sektor pertanian dan perekonomian. BMKG juga mengingatkan warga untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh selama puncak musim kemarau berlangsung.
Forecaster Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan bahwa kondisi kering ini berbanding lurus dengan penguatan dinamika atmosfer global. Indeks Sea Surface Temperature (SST) pada wilayah Nino3.4 menunjukkan indikator El Niño berada pada level Sangat Kuat dengan indeks mencapai +2.45.