Infantino Makin Terpojok, Figo Desak Presiden FIFA Mundur di Tengah Rencana Jual Hak Komersial Piala Dunia

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 02:24:01 WIB
Presiden FIFA Gianni Infantino menghadiri agenda resmi di tengah meningkatnya tekanan dari sejumlah federasi sepak bola.

NUSA TENGGARA BARAT — Gelombang pemberontakan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA semakin nyata. Dilaporkan oleh The Times, Infantino disebut tengah bersembunyi di Salé, Maroko, pekan ini untuk menyelamatkan kursi presidennya. Kota yang menjadi markas besar FIFA untuk kawasan Afrika itu dipilihnya sebagai basis pertahanan terakhir di tengah badai yang menerpa.

Aliansi kekuatan penentang mulai terbentuk. Pemimpin UEFA, Concacaf, dan Federasi Sepak Bola Asia dilaporkan sedang menyiapkan langkah bersama. Salah satu opsi yang mengemuka adalah boikot tata kelola, di mana anggota menolak menghadiri rapat atau mengesahkan keputusan FIFA. Opsi paling ekstrem adalah membentuk kompetisi tandingan ala Piala Dunia, yang pada praktiknya berarti pemisahan diri dari FIFA.

Kritik Pedas dari Legenda Sepak Bola Dunia

Figo, yang selama ini menjadi duta FIFA, akhirnya angkat bicara. Ia menyebut rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta sebagai "perilaku paling rendah, menipu, dan mementingkan diri sendiri yang pernah saya saksikan." Pernyataan tegas ini menjadi sinyal bahwa bahkan orang-orang dalam lingkaran FIFA pun mulai berpaling dari Infantino.

Rencana investasi yang dimaksud melibatkan penjualan sebagian hak komersial turnamen dengan nilai yang disebut-sebut mencapai USD 20 miliar. Yang menarik, salah satu calon pembeli yang dipilih langsung adalah Joshua Kushner, tokoh bisnis yang dekat dengan lingkaran kekuasaan Amerika Serikat. Proses ini juga dijalankan dengan tenggat waktu artifisial pada 19 September, yang menurut para pengamat jauh dari praktik bisnis yang sehat.

Mengapa Perlawanan Baru Muncul Sekarang?

Pertanyaan besar yang mengemuka adalah mengapa perlawanan baru terjadi sekarang, padahal berbagai kontroversi sudah lama menumpuk. Sejak 2018, Infantino telah menyetujui kesepakatan dengan Softbank untuk turnamen Klub Dunia yang diperluas. Piala Dunia 2022 di Qatar yang penuh kontroversi, penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah 2034, hingga penolakan masuk wasit Omar Artan juga telah berlalu tanpa perlawanan berarti.

Selama bertahun-tahun, berbagai ketidakadilan, kerusakan reputasi, dan pelanggaran aturan terus terjadi tanpa hambatan. Banyak pihak kini berspekulasi bahwa perlawanan ini lebih didorong oleh ambisi para eksekutif sepak bola untuk mengambil alih kekuasaan daripada keberatan moral yang tulus. Lord Triesman, mantan ketua FA Inggris, pernah menyebut FIFA sebagai "keluarga mafia" lebih dari satu dekade lalu, dan deskripsi itu masih terasa relevan hingga hari ini.

Kritik terhadap Rencana Investasi yang Dipertanyakan

Selain persoalan moral, rencana investasi Infantino juga dinilai cacat secara ekonomi. Pemilihan satu pembeli yang ditunjuk langsung, angka yang dibuat-buat, dan tenggat waktu yang tidak masuk akal menunjukkan proses yang tidak transparan. Para pengamat menilai langkah ini lebih mencerminkan upaya Infantino untuk mengamankan keuntungan pribadi daripada mencari nilai terbaik bagi aset FIFA.

Dalam pandangan pengamat, tindakan Infantino yang terus-menerus melanggar aturan dan konvensi selama ini merupakan semacam uji loyalitas. Mereka yang diam dianggap setia, sementara yang bersuara dianggap musuh. Namun kini, dengan semakin banyaknya suara kritis yang muncul, tampaknya pertahanan terakhir Infantino mulai jebol.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top