9 Kelurahan di Kota Bima Krisis Air Bersih Imbas Kemarau Ekstrem, 3.677 Jiwa Terdampak dan Andalkan Bantuan

Penulis: Prayoga Santana  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38:31 WIB
Warga menerima pasokan air bersih dari truk tangki BBWS NT I di Kelurahan Paruga, Kota Bima, Senin (3/8/2026).

BIMA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima mencatat krisis air bersih ini tersebar di empat kecamatan. Kelurahan Paruga, Tanjung, dan Pane di Kecamatan Rasanae Barat; Kelurahan Sambinae, Panggi, Manggemaci, dan Monggonao di Kecamatan Mpunda; serta Kelurahan Rontu di Kecamatan Raba dan Kelurahan Melayu di Kecamatan Asakota.

Kepala BPBD Kota Bima, Faruk, menyebut data tersebut merupakan angka terakhir yang dihimpun hingga Juli 2026. Kondisi ini diperparah oleh fenomena cuaca ekstrem yang membuat sumber air warga mengering lebih cepat dari perkiraan.

Kelurahan Paruga Jadi Titik Terparah, 397 KK Terdampak

Di antara sembilan kelurahan yang dilanda kekeringan, Kelurahan Paruga menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Sebanyak 397 kepala keluarga atau sekitar 1.217 jiwa di kelurahan ini kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan harian mereka.

Plt Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I Mataram (BBWS NT I), Autonius Suryono, mengatakan warganya terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air isi ulang. "Untuk kebutuhan sehari-hari mereka harus mengisi atau membeli air isi ulang," ujarnya, Senin (3/8/2026).

Ribuan Liter Air Bersih Didistribusikan ke Empat Titik

BBWS NT I langsung merespons kondisi darurat ini dengan menerjunkan dua truk tangki berkapasitas 5.000 liter. Pendistribusian dilakukan pada Senin (3/8/2026) menyasar empat titik di Kecamatan Rasanae Barat, tepatnya di RT 17, RT 18 BTN Sarata, Lingkungan Sarata, dan Lingkungan Bara Barat.

"Hari ini kami dropping air bersih untuk warga yang terdampak kekeringan pada empat titik di Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima," terang Suryono. Total air bersih yang disalurkan dalam sekali pengiriman mencapai 10.000 liter.

Kerugian Akibat Kekeringan Capai Rp 25,3 Miliar

Krisis air yang berkepanjangan ini tidak hanya menyulitkan aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. BPBD Kota Bima mencatat perkiraan kerugian akibat kekeringan sepanjang Januari hingga Desember 2026 mencapai Rp 25,3 miliar.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026 saja, BPBD Kota Bima telah menyalurkan sebanyak 509.200 liter air bersih kepada warga yang membutuhkan. Angka ini menunjukkan tingginya intensitas bantuan yang harus digelontorkan pemerintah daerah untuk meredam dampak kemarau.

BBWS NT I Siaga Penuh Pantau Kondisi Kekeringan

Suryono menambahkan pihaknya akan terus memantau perkembangan kondisi kekeringan yang dipicu kemarau ekstrem tahun ini. BBWS NT I berkomitmen tetap bersiaga untuk menyalurkan bantuan air bersih tambahan jika dibutuhkan oleh warga di titik-titik lain yang terdampak.

"Kami akan terus memantau kondisi kekeringan yang dipicu kemarau ekstrem. BBWS NT I juga tetap bersiaga untuk menyalurkan bantuan air bersih jika dibutuhkan oleh warga yang terdampak," pungkasnya.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top