MATARAM — Program pengelolaan sampah organik berbasis lubang resapan atau Tempah Dedoro di Kecamatan Cakranegara terus berjalan meski dihadapkan pada keterbatasan lahan. Hingga kini, sebanyak 659 titik lubang resapan telah rampung dibangun oleh pemerintah kecamatan, menyisakan 71 titik lagi untuk mencapai target keseluruhan.
Kawasan dengan kepadatan hunian tinggi seperti Karang Tapen, Karang Jangkong, dan Karang Kemong menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam merealisasikan program ini. Ruang publik yang tersedia sangat terbatas, bahkan untuk sekadar parkir kendaraan bermotor pun warga kerap kesulitan.
Camat Cakranegara, Irfan Syafindra, menegaskan bahwa hambatan pelaksanaan program ini murni persoalan lahan, bukan partisipasi masyarakat. Ia mencontohkan, di beberapa gang sempit, tidak ada lagi tanah kosong yang bisa digali untuk lubang resapan.
"Kendalanya murni lahan. Jangankan membuat Tempah Dedoro, parkir motor saja kadang susah. Karena itu, kuota yang tidak terpenuhi kami alihkan ke lingkungan yang lahannya masih memungkinkan," ujarnya, Senin (3/8/2026).
Untuk menyiasati minimnya ruang, kecamatan mulai mengoptimalkan pekarangan bersama. Lahan yang dimiliki atau digunakan oleh dua hingga empat kepala keluarga (KK) bisa dijadikan lokasi pembangunan Tempah Dedoro apabila masih tersedia ruang kosong.
Strategi ini dinilai lebih realistis ketimbang memaksakan pembangunan di lahan yang tidak memungkinkan. Pemerintah kecamatan juga masih dalam tahap sosialisasi dan pendataan ulang untuk memastikan titik-titik yang belum terpenuhi bisa segera dieksekusi.
Pembangunan lubang resapan ini didanai melalui anggaran pemerintah yang disalurkan ke setiap lingkungan. Rata-rata alokasi mencapai 10 titik per lingkungan, sehingga jumlah target sangat bergantung pada banyaknya lingkungan di masing-masing kelurahan.
"Masih tahap sosialisasi dan pendataan. Rata-rata setiap lingkungan mendapat alokasi 10 titik. Misalnya Kelurahan Cilinaya memiliki 10 lingkungan, maka targetnya sekitar 100 titik," jelas Irfan.
Selain mengandalkan anggaran daerah, kecamatan mendorong pelaku usaha seperti pemilik indekos dan hotel untuk membangun Tempah Dedoro secara swadaya. Langkah ini diambil untuk mempercepat pencapaian target sekaligus mengurangi beban pemerintah.
"Yang pakai dana daerah sudah terdata. Berikutnya kami dorong pemilik kos dan hotel menyediakan fasilitas pengelolaan sampah mandiri. Data swadaya nanti kami rekap tersendiri," katanya.
Irfan menyebut respons para pelaku usaha terhadap imbauan ini cukup positif dan tidak ada penolakan. Pihaknya optimistis target 730 titik dapat segera tercapai seiring berjalannya sosialisasi serta dukungan dari masyarakat dan sektor usaha.