NUSA TENGGARA BARAT — Ada dua cara menilai sebuah legenda: dari angka di atas kertas, atau dari perasaan saat mengendarainya. Artikel Car and Driver edisi November 1999 ini memilih cara ketiga—membandingkan dua ikon yang sama-sama bernama Mustang, tapi satu mengaspal dan satu lagi mengudara. Hasilnya adalah potret menarik tentang bagaimana teknologi balap dan penerbangan militer saling bertaut di tangan satu orang.
Yang pertama adalah mobil sport legendaris dengan ground clearance 6,5 inci dan kecepatan puncak 162 mph. Yang kedua adalah pesawat tempur P-51D yang bisa terbang di ketinggian 41.900 kaki dengan kecepatan jelajah 380 mph—bahkan sempat mencapai 505 mph saat menyelam di era perang. Satu punya enam senapan mesin, satunya lagi tidak punya senjata sama sekali.
Perbandingan ini memang terkesan mengada-ada. Tapi saat menyangkut Jack Roush, logika semacam ini justru masuk akal. Pria 57 tahun yang memiliki lima tim Winston Cup, dua tim Busch, dan dua tim Craftsman Truck ini juga mengoleksi tiga pesawat pribadi. Salah satunya adalah Cessna CitationJet untuk perjalanan bisnis mingguan dari Detroit ke North Carolina. Namun yang paling istimewa adalah P-51 Mustang buatan 1944 yang ia restorasi total selama 10 bulan.
Yang membuat unit ini langka adalah kanopi Plexiglas aslinya yang masih utuh—lebih langka dari Mustang convertible 1966 dengan kanvas original. Meski dibeli dalam kondisi layak terbang, Roush tidak puas. "Saya pikir cukup ganti mesin saja," katanya. "Lalu saya pikir, lebih baik kerjakan hidrolik juga, mungkin kelistrikan, tambah avionik, dan..."—asistennya, Brenda Stricklin, menyela: "Semuanya."
Biaya produksi pesawat ini di era 1940-an hanya USD 44.000 plus USD 9.000 untuk mesin. Setelah restorasi, nilainya melonjak ke angka USD 1,4–1,8 juta. Roush bahkan punya 16 mesin Rolls-Royce Merlin V-12 cadangan, empat di antaranya siap hidup kapan saja. "P-51 ini lebih menyenangkan dari dua Cobra. Bahkan lebih dari empat Cobra," katanya.
Fakta menarik yang mungkin tidak terpikirkan: P-51 ini lebih irit bahan bakar dibanding CitationJet. Konsumsinya mencapai 5 mil per galon, sementara jet pribadinya hanya 3,8 mil per galon. Dengan 250 galon bahan bakar 100-oktan, pesawat ini bisa terbang nonstop dari Detroit ke Daytona dalam waktu kurang dari empat jam. Roush rutin menerbangkannya ke dua ajang balap setiap tahun: Charlotte dan Talladega.
Meski terlihat tangguh, pesawat ini punya rekam jejak insiden. Pernah terjadi piston terbakar saat terbang pulang ke Detroit—Roush berhasil melakukan pendaratan darurat di Toledo. "Kalau ada satu hal yang saya tahu tentang mesin, mesin bekerja baik sampai asapnya keluar," candanya. Insiden lain terjadi di Oshkosh saat strut kanan gagal dikunci, merusak baling-baling dan sayap. Perbaikannya hanya butuh enam minggu.
Pada akhirnya, perbandingan ini bukan tentang mana yang lebih cepat atau lebih mahal. Ini tentang bagaimana seorang insinyur sejati memperlakukan mesin—baik di atas aspal maupun di ketinggian 40.000 kaki. Roush membuktikan bahwa obsesi terhadap detail teknis tidak mengenal batas medium. Untuk penggemar otomotif yang berpikir membeli Cobra adalah puncak pencapaian, Roush punya jawaban berbeda: terbang lebih tinggi dari itu.