MATARAM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menaikkan status peringatan dini kekeringan di Nusa Tenggara Barat (NTB) ke level tertinggi. Fenomena El Nino yang menguat dengan indeks intensitas mencapai +2,26 derajat Celsius memperparah musim kemarau tahun ini, membuat sebagian besar wilayah di provinsi tersebut kehilangan hari hujan dalam waktu sangat panjang.
Berdasarkan analisis iklim terbaru, total ada 17 kecamatan yang tersebar di tujuh daerah yang kini berstatus awas. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut seiring prediksi penguatan El Nino yang bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, mengungkapkan durasi hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah wilayah sudah masuk kategori ekstrem. Catatan terparah terjadi di Kabupaten Bima.
"Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua daerah itu masuk kategori kekeringan ekstrem karena sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan," kata Suci di Mataram, Sabtu (1/8).
Akumulasi curah hujan di NTB pada akhir Juli 2026 tercatat sangat rendah, hanya berkisar 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Titik tertinggi hanya tercatat di Pos Hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, dengan besaran 19 milimeter per dasarian.
Memasuki dasarian I Agustus 2026 (periode 1–10 Agustus), BMKG memperkirakan probabilitas keterjadian hujan di seluruh wilayah NTB masih minim, di bawah 10 persen. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang sempat netral diproyeksikan bergeser menuju fase positif pada September hingga Desember 2026, yang berpotensi memperpanjang musim kering.
Menyikapi eskalasi kekeringan ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemukiman. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan maupun meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
"Sehubungan hari tanpa hujan yang kian panjang dan daerah yang masuk status awas kekeringan meteorologi juga semakin banyak, maka kami harap masyarakat dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih," pungkas Suci.