MATARAM — Dua pos pemantau hujan di Kabupaten Bima, yakni Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo, mencatat periode kering terlama di NTB musim ini. Kedua lokasi itu sudah 74 hari tanpa hujan, menjadikannya masuk kategori kekeringan ekstrem karena melewati batas dua bulan.
Kondisi ini diperparah oleh menguatnya fenomena El Nino yang memperpanjang musim kemarau di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menyebutkan tujuh daerah yang berstatus awas meliputi Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima. Dari wilayah tersebut, 17 kecamatan berada pada level tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis.
"Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua daerah itu masuk kategori kekeringan ekstrem karena sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan," kata Suci di Mataram, Sabtu (1/8/2026).
Fenomena El Nino yang semakin menguat selama musim kemarau tahun ini menyebabkan periode tanpa hujan terus bertambah panjang di sejumlah wilayah. BMKG memperkirakan kondisi El Nino masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase netral diproyeksikan berubah menjadi fase positif pada September hingga Desember 2026. Perubahan fase IOD ini berpotensi semakin menekan pembentukan awan hujan di wilayah NTB.
Status awas kekeringan meteorologis ini meningkatkan risiko krisis air bersih bagi warga. Selain itu, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah yang masuk zona merah.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air bersih serta tidak membakar lahan atau sampah di area terbuka selama periode kering berlangsung. Pihak berwenang juga diminta menyiapkan langkah antisipasi distribusi air bersih ke wilayah-wilayah yang paling terdampak.