Startup Fast Metals Raup Rp 70 Miliar demi Sulap Limbah Aluminium Jadi Mineral Kritis

Penulis: Prayoga Santana  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 01:57:31 WIB
Limbah aluminium yang mengendap di kolam terbuka di Nusa Tenggara Barat menjadi sasaran pengolahan oleh startup Fast Metals.

NUSA TENGGARA BARAT — Limbah aluminium alias red mud selama ini menjadi momok lingkungan. Lebih dari 3 miliar ton material berwarna merah karat ini mengendap di kolam-kolam terbuka atau gundukan raksasa di berbagai belahan dunia. Namun, bagi Sumedh Gostu, co-founder dan CEO Fast Metals, timbunan itu justru ladang emas yang belum tersentuh.

“Ini adalah sumber daya yang sangat kaya. Jika Anda menyerangnya dengan kimia yang tepat, hasilnya bisa sangat menguntungkan,” ujar Gostu kepada TechCrunch.

Mengapa Red Mud Selama Ini Diabaikan?

Warna merah menyala pada limbah ini berasal dari kandungan besi berkarat yang mendominasi komposisinya. Di balik besi itu, red mud juga menyimpan mineral kritis seperti titanium, aluminium, dan elemen tanah jarang (rare-earth elements).

Masalahnya, selama ini biaya untuk memisahkan mineral-mineral tersebut dari oksida besi terlalu mahal. “Kami menghilangkan hambatan itu,” tegas Gostu.

Kimia Limbah untuk Melawan Limbah

Proses pemisahan yang dirancang Gostu sebagian besar sudah ia selesaikan saat studi doktoral di Colorado School of Mines. Namun, satu bagian penting masih hilang. Hingga suatu hari, diskusi dengan rekan pendiri Anthony Staley menemukan titik terang.

“Kami seperti, ‘oh tunggu, ada aliran limbah lain yang bisa membuat seluruh proses ini sangat ekonomis, dan limbah itu ada di sana,’” kata Gostu. Aliran limbah kedua ini juga berasal dari pabrik pemurnian alumina yang sama.

Fast Metals menggabungkan limbah tersebut dengan bahan kimia lain, lalu memproses red mud dalam enam tahap berbeda. Di setiap tahap, mineral yang berbeda mengendap dan siap dijual.

Besi Bayar Biaya Operasional, Sisanya Jadi Untung

Strategi bisnis Fast Metals sederhana: besi yang dipisahkan akan menutupi biaya operasional (OpEx), sementara mineral lain menjadi laba bersih.

Potensi keuntungannya terbilang besar. Titanium dioksida dijual sekitar USD 2,50 hingga USD 3 per kilogram. Sementara skandium oksida, salah satu elemen tanah jarang, dibanderol sekitar USD 750 per kilogram.

Langkah Selanjutnya: Uji Coba Skala Komersial

Dengan pendanaan segar sebesar USD 4,3 juta, Fast Metals berencana memperbesar skala prosesnya. Startup ini sudah meneken kontrak komersial dengan Metalox, sebuah perusahaan pengolah mineral, untuk mengolah satu ton red mud dan limbah kilang per minggu mulai tahun ini.

Jika uji coba berhasil, metode ini bisa menjadi solusi konkret untuk membersihkan gunungan limbah aluminium yang mencemari lingkungan—sambil menghasilkan cuan dari mineral yang selama ini terpendam.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top