NUSA TENGGARA BARAT — OXS Storm A2 adalah headset gaming nirkabel yang dijual seharga USD 129,99 (sekitar Rp 2,1 juta) dan sudah tersedia dalam pilihan warna hitam dan putih. Produk ini masuk ke segmen harga menengah dengan membawa fitur yang cukup lengkap: ANC, surround sound 7.1, dan konektivitas hybrid 2.4GHz plus Bluetooth 5.4. Namun, setelah beberapa pekan pengujian di berbagai platform, headset ini menunjukkan performa yang timpang — unggul di sektor audio, tetapi lemah di kualitas mikrofon.
Bagian paling impresif dari OXS Storm A2 adalah reproduksi suaranya. Driver dynamic 40mm mampu menghasilkan rentang frekuensi yang jernih dan seimbang. Bass terdengar penuh dan bertenaga tanpa mendistorsi suara lain, sementara vokal dan efek suara latar tetap terdefinisi dengan baik.
Saat menguji dengan Counter-Strike 2 di PC, langkah kaki lawan terdengar jelas dan arahnya mudah dilacak. Tembakan senjata terasa punchy, dan suara reload terdengar crisp. Fitur OXS Xspace 7.1 spatial algorithm juga membuat pengalaman bermain lebih imersif — ruang suara terasa lebih luas dan bass terdengar lebih mengisi. Mode ini saya aktifkan sepanjang pengujian karena memang membuat perbedaan signifikan.
Sayangnya, karena bantalan ear cup yang tipis, driver headset cenderung menekan telinga pengguna. Efeknya, suara terasa seperti "bocor" dan tidak se-imersif headset over-ear pada umumnya. Ada juga noise background hiss yang terdengar samar, terutama saat terhubung ke PS5, meski tidak mengganggu saat volume game sudah menyala.
Fitur Active Noise Cancellation (ANC) pada OXS Storm A2 tergolong rudimenter. Sistem ini hanya meredam frekuensi rendah dari suara sekitar — seperti dengung AC atau kipas — tetapi tidak mampu memblokir suara percakapan atau suara mendadak secara total. Jika Anda terbiasa dengan ANC premium dari Sony atau Bose, ekspektasi harus diturunkan.
Mode Passthrough bekerja lebih baik, memungkinkan suara luar terdengar natural tanpa efek terowongan. Namun, perlu dicatat bahwa fitur ANC dan surround sound tidak berfungsi saat headset digunakan dalam mode kabel USB.
OXS Storm A2 mendukung tiga mode koneksi: wireless 2.4GHz via dongle USB (tipe-A dan C), Bluetooth 5.4, dan kabel USB-C. Proses hot-switching antara perangkat cepat dan mudah — cukup tahan tombol ANC selama satu detik. Saya bisa berpindah dari PC ke PS5 tanpa repot mencabut kabel.
Namun, pairing Bluetooth memakan waktu sedikit lebih lama dari rata-rata headset lain. Ini bukan masalah besar, tapi cukup terasa jika Anda sering berganti perangkat.
Kelemahan paling mencolok ada pada mikrofon. Kualitas suara yang direkam terdengar pecah (crackling) dengan resolusi rendah. Dalam satu kesempatan, headset bahkan tidak terdeteksi sebagai perangkat input di PC. Toggle mute via double-tap tombol power juga sempat tidak berfungsi. Untungnya, restart headset memulihkan fungsi ini, tetapi tetap menjadi catatan serius untuk headset di harga Rp 2 jutaan.
Dengan bobot hanya 293 gram dan desain lipat yang ringkas, OXS Storm A2 sangat portabel. Headband-nya ramping dan mekanisme penyesuaian ukuran tersembunyi rapi, memberikan tampilan minimalis yang lebih menarik dibandingkan banyak kompetitor. Bantalan headband juga cukup empuk untuk sesi pendek.
Masalah muncul setelah pemakaian 2-3 jam. Bantalan ear cup yang tipis membuat driver bagian dalam menekan daun telinga. Sensasinya lebih mirip headset on-ear daripada over-ear. Ini menyebabkan nyeri ringan yang akumulatif. Untuk gamer yang biasa bermain marathon, faktor ini patut dipertimbangkan.
Klaim baterai 70 jam terbilang akurat. Dalam pengujian, headset bertahan beberapa hari pemakaian reguler tanpa perlu di-charge. Fitur play-while-charging juga tersedia, meski kabel USB yang disertakan terlalu pendek untuk digunakan sambil bermain dengan posisi nyaman.
Sayangnya, tidak ada companion software untuk mengatur EQ atau menerima pembaruan firmware. Ini berarti Anda tidak bisa menyesuaikan profil suara sesuai preferensi, dan tidak ada jaminan headset akan mendapat update di masa depan. Ketiadaan software ini menjadi kekurangan yang cukup mencolok di kelas harga ini.
OXS Storm A2 adalah headset dengan nilai yang baik jika Anda memprioritaskan kualitas audio dan fleksibilitas koneksi. Suaranya jernih, surround sound efektif, dan baterai tahan lama. Namun, mikrofon yang buruk dan kurangnya software pendukung membuatnya kurang ideal untuk streamer atau pemain yang sering berkomunikasi dalam game.
Jika anggaran terbatas dan suara adalah prioritas utama, OXS Storm G2 (USD 79) bisa menjadi alternatif yang lebih murah meski kualitas audionya di bawah A2. Untuk pengalaman lebih premium dengan kontrol penuh, Skullcandy Crusher PLYR 720 (USD 269,99) menawarkan kustomisasi EQ via aplikasi dan bass yang jauh lebih kuat — meski dengan harga yang juga lebih tinggi.
Bagi pengguna di Indonesia yang mencari headset gaming wireless dengan suara bersih untuk penggunaan kasual hingga semi-kompetitif, OXS Storm A2 layak masuk daftar belanja — asalkan Anda siap mengabaikan kekurangan pada mikrofonnya.