MATARAM — Desa Pakuan yang berada di ujung barat Lombok akhirnya kebagian operasi pasar murah dari Pemprov NTB. Gerakan Pangan Murah (GPM) kali ini digelar di Halaman Hutan Nuraksa Kumbi, menyasar warga yang selama ini kesulitan mengakses bahan pokok dengan harga terjangkau.
Komoditas paling laris dalam GPM kali ini adalah minyak goreng Minyakita yang dijual Rp15.500 per liter. Di pasar tradisional, harga minyak goreng kemasan sederhana itu tembus Rp17.000 hingga Rp17.500 per liter.
Sejak pagi, warga sudah berdatangan. Nuhun Santriwati, warga Kumbi, mengaku langsung membeli dua liter minyak goreng seharga Rp31.000. "Kalau di pasar harganya lebih mahal, di sini jauh lebih murah," katanya kepada petugas di lokasi.
Selain minyak, beras murah juga tersedia melalui kerja sama dengan Perum Bulog. Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP) Dinas Ketahanan Pangan NTB, Irine Silviani, memastikan stok beras NTB aman untuk 10 hingga 11 bulan ke depan.
"Kami terus menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan," ujar Irine di sela kegiatan. Menurutnya, langkah antisipatif juga disiapkan menghadapi potensi kekeringan ekstrem akibat El Nino yang diperkirakan mengancam sektor pertanian.
Kegiatan ini tidak hanya jual beli. GPM di Desa Pakuan dirangkai dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTB. Pelaku UMKM lokal dan kelompok binaan Dinas Kehutanan juga turut memasarkan produk pangan hasil bumi.
Irine memastikan program ini berkelanjutan. Selama Juni 2026, GPM sudah digelar dua kali. Pada Juli mendatang, sasarannya adalah program desa berdaya — unggulan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri.
Nuhun berharap pasar murah bisa lebih sering diadakan di desanya. "Senang sekali, jarang ada kegiatan seperti ini di sini. Semoga sering diadakan supaya masyarakat bisa dapat kebutuhan pokok dengan harga terjangkau," pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Irine mengajak masyarakat lebih bijak mengelola konsumsi pangan di tengah tantangan perubahan iklim global. "Mari kita hentikan pemborosan pangan dan berbelanja sesuai kebutuhan. Dengan begitu, ketahanan pangan keluarga dapat tetap terjaga," katanya.