Alih-alih menjadi gebrakan di sektor audio, peluncuran Google Home Speaker kali ini lebih menunjukkan arah baru Google yang mulai mengintegrasikan asisten AI Gemini ke dalam perangkat keras rumah tangga. Bukan soal seberapa jernih suaranya, melainkan seberapa pintar perangkat ini merespons.
Secara fisik, Google Home Speaker hadir sebagai bola pipih—atau secara teknis disebut oblate spheroid—yang dibalut kain daur ulang. Tersedia dalam empat warna: hazel, porcelain, jade, dan berry. Dua warna terakhir hanya untuk pasar Amerika Serikat.
Google mengklaim perangkat ini menghasilkan "suara 360 derajat" sehingga pengalaman mendengar tetap seragam di mana pun posisi pendengar di ruangan. Tapi klaim semacam ini sudah lazim di kelas speaker pintar, dan bukan menjadi nilai jual utama.
Fitur yang lebih menonjol justru ada pada cincin cahaya di bagian bawah speaker. Lampu ini menyala saat perangkat mendengar, "berpikir", atau merespons perintah suara. Efek pencahayaan ini bukan sekadar estetika—Google mulai menerapkan elemen serupa di lini produk lain, termasuk laptop Googlebook yang akan datang.
Speaker ini dibekali tiga mikrofon far-field yang tersebar di sekeliling bodi untuk menangkap suara dari berbagai arah. Tersedia pula tombol mute fisik jika pengguna tidak ingin perangkat terus mendengarkan pemicu "OK Google."
Yang membedakan Google Home Speaker dari pendahulunya bukanlah hardware audio, melainkan perangkat lunak. Perangkat ini menjadi salah satu yang pertama menjalankan Gemini sebagai asisten suara utama, menggantikan Google Assistant generasi lama.
Ini berarti respons yang lebih kontekstual, kemampuan memahami percakapan berkelanjutan, dan integrasi lebih dalam dengan layanan Google seperti Kalender, Maps, dan Gmail. Bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan ekosistem Google, daya tariknya ada di sini—bukan di kualitas speaker.
Google Home Speaker dijual seharga 100 dolar AS (sekitar Rp 1,6 juta) di Amerika Serikat. Belum ada informasi resmi mengenai ketersediaan di Indonesia. Mengingat produk sebelumnya seperti Nest Audio juga tidak masuk pasar Indonesia secara resmi, kemungkinan besar pengguna Tanah Air harus mengandalkan importir atau platform e-commerce internasional.
Pengiriman perdana dijadwalkan pada 25 Juni. Pre-order sudah dibuka sejak hari ini.