NUSA TENGGARA BARAT — Bermain di Houston Stadium, Jerman langsung menunjukkan taringnya sejak menit awal. Gol pembuka lahir di menit keenam lewat aksi Felix Nmecha yang menyelesaikan kerja sama apik bersama Florian Wirtz. Nmecha kembali menjadi momok bagi pertahanan Curacao saat ia dipaksa jatuh di kotak penalti, menghasilkan hadiah penalti yang sukses dieksekusi Kai Havertz pada masa injury time babak pertama (45+5).
Curacao bukan tanpa perlawanan. Mereka sempat menyamakan kedudukan di menit ke-21 melalui Livano Comenencia. Namun, keunggulan Jerman kembali dipulihkan oleh bek Nico Schlotterbeck di menit ke-38. Selepas jeda, dominasi Jerman semakin tak terbendung.
Jamal Musiala mempertegas keunggulan dua menit setelah babak kedua dimulai, memanfaatkan umpan terobosan Joshua Kimmich. Nathaniel Brown (68'), Deniz Undav (78'), dan Havertz yang mencetak gol keduanya di menit ke-88 melengkapi pesta gol Jerman menjadi 7-1.
Yang menarik dari laga ini bukan sekadar skor besar, melainkan cara Jerman meraihnya. Alih-alih mengandalkan kekuatan fisik, para pemain seperti Musiala, Wirtz, dan Leroy Sane justru tampil lincah dengan bola-bola satu-dua dan umpan tumit, seolah menari di antara bek lawan. Transformasi gaya bermain ini sebenarnya sudah dirintis sejak era Jurgen Klinsmann (2006) dan Joachim Low, yang puncaknya adalah gelar Piala Dunia 2014 di Brasil.
Kini, tugas melanjutkan evolusi tersebut ada di pundak Julian Nagelsmann. Meski kemenangan atas Curacao bukanlah kejutan, performa ini menjadi modal berharga. Ujian sesungguhnya akan datang saat Jerman bertemu dua rival lain di Grup E: Pantai Gading dan Ekuador.
Jerman (4-2-3-1): Neuer; Kimmich, Tah, Schlotterbeck, Brown; Pavlovic, Nmecha; Sane, Musiala, Wirtz; Havertz.
Curacao (4-2-3-1): Room; Floranus, Bazoer, Obispo, Fonville; Comenencia, Leandro Bacuna; Hansen, Chong, Juninho Bacuna; Locadia.