NUSA TENGGARA BARAT — Lokasinya yang hanya berjarak sekitar dua hingga tiga jam perjalanan darat dari Jakarta membuat Tanjung Lesung kerap menjadi pilihan wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Kawasan seluas 1.500 hektare ini menawarkan beragam aktivitas, mulai dari wisata bahari, olahraga air, petualangan alam, hingga pengalaman budaya lokal.
Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, Chairman of PATA (Pacific Asia Travel Association) Indonesia Chapter, menilai dunia tengah memasuki era baru dalam memandang pembangunan. Menurutnya, jika abad ke-20 bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, maka keberhasilan pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan menjaga dan memulihkan lingkungan.
"Kalau model pembangunan abad ke-20 sebagian besar didorong dengan pemanfaatan sumber daya (alam), model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi, termasuk restorasi lingkungan," kata Darmono di Jakarta, baru-baru ini.
Ia menegaskan, kawasan yang mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan kini menjadi semakin bernilai. Alam yang terjaga dipandang sebagai aset penting untuk pembangunan jangka panjang.
Darmono menjelaskan, ukuran keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak lagi semata-mata dari banyaknya fasilitas atau bangunan. Kondisi lingkungan yang terjaga justru menjadi faktor utama yang diperhitungkan wisatawan.
Pantai yang bersih, hutan yang lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang hidup dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi. Ketika wisatawan mulai menghargai aspek-aspek tersebut, muncul insentif ekonomi bagi pelaku usaha dan masyarakat untuk terus menjaganya.
"Ketika wisatawan menghargai pantai yang bersih, hutan yang lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang hidup, maka ekonomi akan memberikan insentif untuk menjaga semuanya," ujar Darmono.
Darmono meyakini, dengan hadirnya akses Tol Serang-Panimbang yang segera rampung, Tanjung Lesung tidak hanya menjadi lebih dekat secara geografis. Kawasan ini dinilai menjadi lebih relevan dengan kebutuhan pasar wisata global yang mulai beralih ke pariwisata berkelanjutan.
Menurutnya, investasi masa depan tidak lagi hanya berbicara soal keuntungan ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Tanjung Lesung, kata dia, menawarkan harapan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan upaya menjaga lingkungan.
Pengembangan kawasan ke depan dinilai perlu dilakukan secara lebih terukur dengan menempatkan kualitas pengalaman wisata sebagai prioritas utama, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan atau eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.