110 Ribu Hektare Tutupan Pohon di NTB Hilang dalam 25 Tahun, Petani Jadi Garda Terdepan Pemulihan

Penulis: Ridho Pratama  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 20:34:31 WIB
Hamparan perbukitan gundul di Kabupaten Bima terlihat jelas dari rekaman video udara di NTB.

MATARAM — Rekaman video dari jendela pesawat yang diunggah akun Instagram @fahroerizki pada akhir Mei 2026 membuat publik NTB terhenyak. Selama 1 menit 30 detik, kamera menangkap hamparan perbukitan gundul di Kecamatan Soromandi dan Donggo, Kabupaten Bima. Ladang jagung pasca-panen menyisakan tanah terbuka yang membentang hingga ke ujung cakrawala, hanya diselingi jalur hijau tipis di sepanjang aliran sungai.

El Nino Memperparah Laju Kerusakan

Data Global Forest Watch mencatat tiga puncak kehilangan tutupan pohon di NTB selalu terjadi bersamaan dengan fenomena El Nino. Pada 2014, seluas 7,1 ribu hektare hutan lenyap. Angka itu naik menjadi 8,7 ribu hektare pada 2019, dan mencapai 9,9 ribu hektare pada 2023. Musim kering berkepanjangan mengubah vegetasi menjadi sangat kering dan rentan terbakar.

Kabupaten Sumbawa menjadi daerah dengan kerusakan terparah, kehilangan 36 ribu hektare tutupan pohon. Disusul Dompu 26 ribu hektare, dan Bima 25 ribu hektare. Budidaya jagung monokultur disebut sebagai penyebab utama perubahan bentang alam di tiga wilayah tersebut.

Petani Bukan Tersangka, Tapi Penjaga Hutan

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB meluncurkan gerakan Satu Desa Satu Demplot Agroforestri pada 2025. Program ini dirancang untuk mengendalikan invasi monokultur jagung di kawasan hutan Pulau Sumbawa. Petak-petak ladang jagung mulai ditanami pohon buah produktif seperti alpukat, kemiri, petai, lengkeng, nangka, dan durian.

“Petani adalah aktor kunci dalam memulihkan ekologis hutan yang telah rusak. Jangan menempatkan mereka sebagai pihak paling bersalah atas deforestasi, namun posisikan mereka sebagai aktor penjaga hutan,” demikian narasi yang mengemuka dalam laporan tersebut.

Dalam sistem agroforestri, pohon bernilai ekonomi ditanam bersama tanaman pangan dalam satu bentang lahan. Fungsi ekologis pohon tidak hanya mengembalikan nutrisi tanah yang hilang akibat monokultur, tetapi juga memberikan penghasilan tambahan bagi petani.

Tradisi Ladang Berpindah dan Kendala Pemeliharaan Bibit

Kendala terbesar di lapangan justru datang dari kebiasaan petani tradisional di Dompu dan Bima yang masih menjalankan praktik ladang berpindah setiap empat hingga lima tahun. Mereka beralih lokasi untuk menghindari serangan monyet dan babi hutan, tetapi praktik itu justru mendorong perluasan lahan pertanian secara terus-menerus.

Gerakan agroforestri yang sudah berjalan dinilai belum optimal. Banyak agenda penanaman hanya bersifat seremonial — dilakukan saat peringatan hari besar nasional atau penyaluran dana tanggung jawab sosial perusahaan. Tanpa pemeliharaan bibit dan jaminan pasar saat panen, bibit-bibit pohon itu tidak bertahan lama.

Pemerintah daerah didesak untuk memberikan penghargaan kepada petani yang setia menjaga tutupan pohon dan merawat sumber air. Sebab, setiap bukit yang kehilangan kanopi hutan berarti berkurangnya kemampuan alam menyediakan air bersih, sekaligus hilangnya kekuatan tanah menahan longsor dan banjir.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top