SELONG — Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menekankan pentingnya kejujuran masyarakat saat petugas Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pendataan Sensus Ekonomi. Ia memperingatkan agar warga tidak memberikan informasi palsu karena data tersebut sangat krusial bagi pemerintah daerah.
“Jangan memberikan data yang tidak akurat, karena data tersebut akan digunakan pemerintah untuk mengukur serta menentukan prioritas kebijakan ke depan agar perencanaan pembangunan lebih tepat sasaran,” tegas bupati yang akrab disapa H. Iron itu.
Di tengah tekanan ekonomi nasional, Lombok Timur justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen di luar sektor tambang. Capaian ini menjadi yang tertinggi di Pulau Lombok berdasarkan data resmi BPS.
Bupati membandingkan dengan Kabupaten Sumbawa Barat yang mencatat pertumbuhan hingga 30 persen, namun dipicu sektor industri smelter emas milik PT Amman Mineral. “Penggerak utama ekonomi kita adalah sektor pertanian,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, bupati menyoroti sektor pendidikan. Lombok Timur memiliki banyak sekolah swasta, baik berbasis pondok pesantren maupun sekolah umum. Jumlah sekolah di daerah itu mencapai ribuan, terdiri dari negeri dan swasta.
“Untuk tingkat SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) sederajat saja jumlahnya sudah mencapai ratusan,” tambahnya.
Bupati mengakui peran vital tokoh agama dan ulama dalam kemajuan pendidikan. “Tanpa semangat para ulama untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan, kondisi masa depan masyarakat Lombok Timur akan sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Pemerintah daerah memastikan seluruh pondok pesantren yang mengajukan proposal telah menerima bantuan. Bupati berjanji akan menyalurkan bantuan semen pada hari Senin bagi Yayasan Shirotul Khair Ambung yang sedang membangun gedung baru.
“Insyaallah, termasuk Yayasan Al-Khair yang anggarannya sudah siap,” ungkapnya.
Acara peletakan batu pertama tersebut dihadiri oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi NTB, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lombok Timur, para Tuan Guru, kepala desa, dan masyarakat setempat.