NUSA TENGGARA BARAT — Tekanan terhadap mata uang Garuda terasa sejak awal sesi. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri—hampir seluruh mata uang Asia kompak berada di zona merah.
Yen Jepang merosot 0,14 persen, baht Thailand ambles 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. yuan China, peso Filipina, serta dolar Singapura dan Hong Kong juga tak luput dari tekanan.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam fase konsolidasi. Ia memproyeksikan rentang perdagangan di Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS—lebih rendah dari level aktual pembukaan pagi ini.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Ia menambahkan, harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah. Namun, sentimen itu belum cukup kuat untuk membalikkan arah pelemahan di tengah dominasi permintaan dolar AS.
Bank Indonesia mengkonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal dan domestik. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut konflik di Timur Tengah masih menjadi sumber utama ketidakpastian global.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).
Di sisi lain, permintaan dolar AS meningkat secara musiman. Perusahaan-perusahaan membutuhkan valas untuk membayar utang luar negeri (ULN) dan mendistribusikan dividen kepada investor asing—sementara arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas.
Menghadapi situasi ini, BI memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar valas. Ramdan menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa henti.
"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegasnya.
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk operasi moneter dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini diharapkan bisa meredam volatilitas rupiah yang cenderung melemah dalam sepekan terakhir, terutama selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026.