MATARAM — Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Irnadi Kusuma menyatakan capaian tersebut membuktikan daerahnya tetap menarik bagi investor di tengah dinamika geopolitik global. Sektor pertambangan dan energi masih mendominasi, menyumbang 71,5 persen dari total realisasi penanaman modal periode Januari hingga Maret 2026.
Lapangan usaha energi dan sumber daya mineral menjadi primadona dengan nilai investasi Rp12,92 triliun. Angka ini jauh melampaui sektor lain yang menempati posisi kedua, yakni industri pengolahan dengan realisasi Rp1,67 triliun.
Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif berada di urutan ketiga dengan kontribusi Rp202 miliar. Irnadi menambahkan bahwa pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi dan industri pengolahan untuk memperkuat keberlanjutan investasi.
Pemerintah NTB menilai gejolak geopolitik dunia tidak berdampak signifikan terhadap minat investasi di sektor strategis daerah. Namun, Irnadi mengakui calon investor di bidang pertambangan mengalami perlambatan, meski masih dalam batas terkendali.
"Kami terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan investasi, salah satunya dengan memperkuat investasi berbasis hilirisasi dan industri pengolahan," ujar Irnadi dalam pernyataan di Mataram, Selasa.
Kawasan Samota—akronim dari Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora—kini mulai dilirik investor. Irnadi menyampaikan sejumlah investor menunjukkan ketertarikan terhadap pengelolaan hasil perikanan di kawasan tersebut.
Pemerintah provinsi mendorong pengembangan industri pengolahan lain yang mampu menghasilkan produk akhir bernilai tambah. Langkah ini diharapkan memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
"Kami optimistis target investasi tahun ini sebesar Rp68,64 triliun dapat tercapai melalui kolaborasi berbagai pihak dan optimalisasi potensi daerah," pungkas Irnadi.