Tiga Mahasiswa FK Unizar Juara II Lomba Esai Internasional WISEC 2026, Usung Model Edukasi Cegah Pernikahan Dini di NTB

Penulis: Ridho Pratama  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 13:01:37 WIB
Tiga mahasiswa FK Unizar raih juara II dalam Lomba Esai Internasional WISEC 2026 dengan model edukasi cegah pernikahan dini.

MATARAM — Tim yang beranggotakan Ayom Pandu Prakoso, Diah Primadewi, dan Sifa Salsabila Pratama ini bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, bahkan pelajar SMA dan SMP di ajang yang digelar secara hybrid pada Mei hingga Juni 2026 itu. Kompetisi internasional ini diselenggarakan oleh Cakap Riset bekerja sama dengan Universitas PGRI Yogyakarta (UPY).

Y-CLIC: Kurikulum Hidup Kontekstual untuk Remaja

Gagasan yang mereka usung diberi tajuk “Y-CLIC: Youth Community Learning & Certification Model To Prevent Early Marriage Through Contextual Life Skills Education.” Lewat program ini, mereka merancang kurikulum berbasis komunitas yang tak hanya membahas kesehatan reproduksi, tapi juga kesiapan mental dan dampak sosial dari perkawinan usia anak.

“Permasalahan pernikahan dini kami kaitkan dengan bidang kesehatan. Dari situ kami merancang sebuah kurikulum yang nantinya dapat dipelajari oleh para remaja,” jelas Sifa Salsabila Pratama dalam keterangan yang diterima Suara NTB.

Model ini, menurut Sifa, sejalan dengan program pemerintah seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang bertujuan menurunkan angka pernikahan dini sekaligus meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan.

Proses Seleksi Ketat, 20 Tim Lolos ke Final

Perjalanan tim FK Unizar menuju podium juara tidak singkat. Mereka mulai berdiskusi intensif pada Februari 2026 di bawah bimbingan drg. Sabrina Intan Zoraya, M.K.M., setelah sebelumnya diarahkan oleh dosen Fakultas Kedokteran Unizar, Ayu Anulus, SST., M.K.M.

“Kami menggabungkan ide dari drg. Sabrina dengan gagasan dari tim sendiri, lalu mulai menyusun draf scientific paper-nya,” ujar Diah Primadewi. Seluruh proses seleksi meliputi penyusunan paper, penguatan konsep inovasi, hingga presentasi finalis. Dari ribuan peserta, hanya 20 tim terbaik yang berhasil lolos ke babak final.

Bawa Isu Lokal NTB ke Forum Global

Ketua tim, Ayom Pandu Prakoso, mengaku capaian ini bukan sekadar soal piala. “Bagi kami, ini bukan hanya soal prestasi, tetapi bagaimana kami bisa membawa permasalahan yang nyata terjadi di NTB ke forum internasional dan menawarkan solusi yang relevan bagi masyarakat,” ungkap Ayom.

Ia menambahkan, proses persiapan cukup berat karena harus membagi waktu antara perkuliahan dan lomba. Namun berkat kerja sama tim dan dukungan fakultas, mereka bisa bertahan. Ayom berharap inovasi Y-CLIC tak berhenti sebagai proyek kompetisi, melainkan bisa diimplementasikan langsung di tengah masyarakat.

“Semoga capaian ini juga bisa memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berani berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik Unizar di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top