MATARAM — Runtuhnya dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram pada Selasa siang menjadi alarm bagi kondisi infrastruktur pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Insiden yang terjadi sekitar pukul 12.30 WITA itu menyebabkan lima siswa menjadi korban, dengan empat di antaranya mengalami syok dan satu orang harus dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
Anggota Komisi V DPRD NTB, Didi Sumardi, menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi bahan refleksi serius bagi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) NTB. Ia meminta agar evaluasi tidak hanya berhenti di SMAN 7 Mataram, melainkan diperluas ke seluruh sekolah menengah atas, kejuruan, dan luar biasa di daerah itu.
“Terkait dengan perhatian ke depan, ini juga menjadi refleksi bagi Kadispora khususnya, untuk bagaimana mengevaluasi secara menyeluruh bangunan seluruh sekolah SMA, SMK, SLB. Khususnya adalah bangunan-bangunan yang sudah memiliki usia yang cukup lama, atau bangunan lama,” ujar Didi, Selasa (19/5).
Dua kelas yang roboh di SMAN 7 Mataram diketahui telah berdiri selama dua dekade. Kondisi bangunan tua yang tidak terpantau secara berkala dinilai menjadi faktor utama kerentanan infrastruktur sekolah.
Didi menekankan perlunya koordinasi lintas dinas untuk memastikan keselamatan siswa dan guru. “Ini menjadi concern Pak Kadispora dengan Pak Kadis PUPR, untuk bagaimana melakukan evaluasi terhadap keseluruhan kondisi gedung. Ini pembelajaran bagi kita tentu, ya untuk ke depannya jangan pernah terjadi. Insyaallah harus kita cegah,” tegas politisi Partai Golkar itu.
Menanggapi desakan DPRD, Kepala Disdikpora NTB Syamsul Hadi langsung menginstruksikan seluruh kepala sekolah SMA/sederajat untuk mengecek kondisi bangunan dan kualitas infrastruktur di sekolahnya masing-masing. Langkah ini diambil sebagai antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kepsek SMA untuk mengecek kondisi bangunan, antisipasi tidak terjadi lagi hal serupa,” ujar Syamsul.
Sebagai tindak lanjut, Syamsul telah mengusulkan perbaikan dua ruang kelas yang roboh melalui program revitalisasi. Disdikpora NTB juga sudah menjalin komunikasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) agar bantuan perbaikan untuk SMAN 7 Mataram menjadi prioritas.
“Saya juga mencoba nanti berkomunikasi dengan pusat supaya ini jadi prioritas (revitalisasi),” tuturnya.
Pihak sekolah diminta menyiapkan persyaratan administratif untuk pengajuan bantuan. Sementara itu, Dinas PUPR telah diminta melakukan asesmen terhadap bangunan-bangunan lain di SMAN 7 Mataram untuk memitigasi risiko keruntuhan susulan. “Sebenarnya dari sini tidak kelihatan, tapi kita untuk memitigasi risiko, PU segera melakukan asesmen terkait dengan bangunan ini. Itu yang dikhawatirkan jangan sampai terjadi lagi,” pungkas Syamsul.