MATARAM — Pemerintah Kota Mataram kini dihadapkan pada pilihan sulit antara memperluas infrastruktur pencegah banjir atau mempertahankan akses transportasi di kawasan pemukiman padat. Salah satu titik paling krusial berada di wilayah Taman Sari, tepatnya pada area belakang Museum NTB di Jalan Panjitilar.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, mengungkapkan bahwa saluran air di kawasan tersebut sudah tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. Namun, upaya pelebaran dimensi drainase terbentur oleh sempitnya ruang yang tersedia di lapangan.
Kondisi geografis dan tata letak bangunan di pemukiman padat membuat opsi teknis menjadi sangat terbatas. Pelebaran saluran dipastikan akan memakan porsi badan jalan yang saat ini sudah tergolong sempit untuk mobilitas warga.
“Kalau drainasenya kita perlebar, otomatis badan jalannya menjadi kecil. Siap tidak dengan itu?,” ujar Lale pada Rabu, 6 Mei 2026.
Selain kendala lebar lahan, Dinas PUPR juga menyoroti masalah elevasi atau kemiringan saluran. Perbaikan di satu titik tidak akan efektif jika tidak dilakukan sinkronisasi ketinggian hingga ke saluran pembuangan utama. Jika elevasi tidak akurat, air tetap akan mengendap dan memicu genangan meski fisik saluran telah diperbaiki.
Penyebab krisis air meluap ini bukan sekadar masalah teknis di hilir, melainkan adanya perubahan besar pada tata ruang di hulu. Wilayah Selatan Mataram yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan air kini telah didominasi oleh kawasan perumahan.
Hilangnya ruang terbuka hijau membuat air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir ke permukaan. Beban ini akhirnya menumpuk pada sistem drainase kota yang kapasitasnya belum mengalami peningkatan signifikan.
“Air ini seperti kehilangan tempat. Ruang terbuka hijau semakin berkurang, sehingga air langsung mengalir ke pemukiman,” jelas Lale.
Meski menghadapi tantangan ruang yang kompleks, Pemkot Mataram tetap menyiagakan tim pemeliharaan setiap hari. Petugas lapangan difokuskan untuk menangani sumbatan sampah maupun kerusakan infrastruktur kecil yang bisa menghambat laju air.
Masyarakat kini diminta lebih proaktif dalam melaporkan titik genangan melalui kanal "Mataram Siaga". Pelaporan warga menjadi basis data bagi dinas untuk menentukan skala prioritas penanganan di tengah keterbatasan anggaran dan ruang pembangunan.
Pemerintah menekankan bahwa solusi banjir di Mataram tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan beton. Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan saluran serta komitmen mempertahankan sisa ruang terbuka hijau menjadi kunci agar pemukiman padat tidak terus terendam saat musim penghujan tiba.