Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Mataram mulai mempercepat penguatan struktur internal hingga ke level terbawah. Pembentukan pengurus ranting di seluruh kelurahan ini dirancang untuk membuka ruang bagi anak muda yang selama ini belum tersentuh aktivitas politik praktis.
Ketua DPD PSI Kota Mataram, Lalu Mustiarep, menyatakan bahwa keberadaan pengurus di tingkat kelurahan bukan sekadar pelengkap administratif organisasi. Para kader di tingkat ranting diinstruksikan untuk hadir sebagai pemberi solusi atas persoalan harian yang dihadapi warga di lingkungan masing-masing.
“DPRT adalah ujung tombak. Mereka akan hadir langsung di tengah warga, mendengar persoalan di gang-gang, dan membawa solusi nyata. Ini bukan politik papan reklame,” tegas Lalu Mustiarep.
Ia menekankan pentingnya kehadiran fisik kader dalam menangani masalah domestik di kelurahan. PSI ingin mengubah persepsi publik dengan menunjukkan kerja-kerja teknis yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat Mataram.
Dalam proses rekrutmen ini, PSI Mataram secara spesifik menyasar segmentasi pemilih muda. Kriteria yang dicari mencakup kalangan mahasiswa, pelaku UMKM, aktivis komunitas, hingga konten kreator lokal yang memahami dinamika perkotaan.
Ketua OKK PSI Mataram, Yudhi Buster, menyebutkan bahwa partainya menghindari pola lama dalam membangun kaderisasi. Menurutnya, keterlibatan wajah-wajah baru dengan ide segar sangat diperlukan untuk menjaga relevansi partai di mata pemilih urban.
“Kalau yang kita rekrut hanya orang-orang lama, maka PSI tidak akan berbeda. Kami mencari anak muda yang punya ide, berani bekerja, dan memahami karakteristik kelurahan masing-masing,” ujar Yudhi.
Para pengurus ranting nantinya akan dibekali tugas terukur, mulai dari identifikasi masalah warga hingga penyusunan usulan program berbasis kebutuhan lokal. Kader diharapkan mampu melakukan advokasi kebijakan dan anggaran yang berpihak pada kepentingan masyarakat di tingkat bawah.
“Kami ingin DPRT yang kalau ada selokan mampet, dia yang pertama angkat cangkul. Kerja nyata lebih penting dari sekadar foto,” tambah Yudhi menekankan pentingnya militansi di lapangan.
Gerakan ini juga dibarengi dengan internalisasi simbol baru PSI berupa gajah merah-hitam. Simbol tersebut dimaknai sebagai nilai kekuatan, loyalitas, dan kebijaksanaan yang harus tercermin dalam setiap gerakan politik di Mataram.
Proses pembentukan struktur di 50 kelurahan ini ditargetkan tuntas dalam beberapa pekan ke depan. Pasca-pembentukan, PSI Mataram akan melanjutkan agenda dengan pendidikan kader dasar guna memperkuat kapasitas komunikasi politik dan pendataan sosial di tingkat akar rumput.