NUSA TENGGARA BARAT — Danantara menyatakan dukungan penuh atas rencana PT Kereta Api Indonesia mengimpor KRL bukan baru dari Jepang untuk menambah 23 trainset di Jabodetabek. Dukungan itu disampaikan menyusul lonjakan penumpang KRL yang tumbuh 11,3 persen pada semester I-2026.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menegaskan pihaknya mendukung langkah KAI selama pengadaan itu dibutuhkan masyarakat. Pernyataan itu muncul setelah KAI mengusulkan impor kereta rel listrik bukan baru ke Komisi VI DPR.
Dony menilai penambahan armada KRL bukan sekadar urusan operasional kereta. Ada dampak berantai yang dia harapkan muncul, mulai dari penurunan polusi hingga pergeseran pusat pertumbuhan kota.
Alasan Danantara Beri Lampu Hijau
Menurut Dony, kereta api menjadi salah satu sektor yang paling diandalkan pemerintah untuk mengubah cara orang berpindah. Dia menyebut transportasi publik berbasis rel bisa menekan konsumsi bahan bakar dan membuka wilayah baru sebagai pusat kota.
"Apa yang sedang dijajaki oleh KAI, kami mendukung selama itu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pada dasarnya tentu kita mendukung apapun yang dibutuhkan dalam langkah percepatan transportasi kita," kata Dony di Hotel Kempinski Jakarta, Rabu (8/10/2026).
Dony menambahkan, Danantara akan menggelar pertemuan dengan Direktur Utama KAI pekan depan. Agenda utamanya membahas berapa banyak armada yang benar-benar diperlukan untuk melayani penumpang.
"Tinggal nanti kita bisa dengan Dirut KAI berapa banyak yang dibutuhkan oleh KAI untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat kita," ujarnya.
Rincian 23 Trainset yang Diminta KAI
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya mengungkap kebutuhan tambahan 23 trainset untuk operasional KRL Jabodetabek. Usulan itu disampaikan langsung ke Komisi VI DPR dan mendapat persetujuan.
Pengadaan tersebut rencananya dipenuhi lewat KRL bukan baru, bukan unit bekas biasa. Kebutuhannya dibagi dua formasi berbeda.
- 7 trainset dengan formasi 12 kereta (SF12)
- 16 trainset dengan formasi 8 kereta (SF8)
Pembagian formasi itu menyesuaikan kondisi infrastruktur di tiap lintas. Bobby menyebut sejumlah stasiun belum bisa mengakomodasi rangkaian SF12 karena panjang peronnya terbatas.
Penumpang KRL Melonjak 11,3 Persen
Kebutuhan armada baru muncul karena jumlah pengguna KRL Jabodetabek terus naik. Pada semester I-2026, penumpang tumbuh 11,3 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka itu menggambarkan tekanan nyata pada armada yang beroperasi saat ini. Tanpa tambahan trainset, jadwal perjalanan dan kapasitas angkut berisiko tidak lagi sepadan dengan permintaan harian.
Bagi penumpang Jabodetabek, penambahan 23 trainset berarti peluang mendapat kereta lebih sering dan tidak terlalu penuh pada jam sibuk. Bagi pemerintah, langkah ini menjadi bagian dari upaya memindahkan lebih banyak pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik.
Rencana impor KRL dari Jepang kini menunggu pembahasan teknis antara Danantara dan KAI. Keputusan soal jumlah final dan jadwal kedatangan armada akan ditentukan setelah pertemuan pekan depan.