Pencarian

64 Calon PMI NTB Ikuti Pelatihan Pemagangan ke Jepang, Gubernur Ingatkan Jangan Puas Sebelum Waktunya

Selasa, 04 Agustus 2026 • 08:23:02 WIB
64 Calon PMI NTB Ikuti Pelatihan Pemagangan ke Jepang, Gubernur Ingatkan Jangan Puas Sebelum Waktunya
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal membuka pelatihan tahap pertama program pemagangan ke Jepang bagi 64 calon PMI di Mataram, Senin (3/8/2026).

MATARAM — Sebanyak 64 calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal berbagai kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengikuti pelatihan tahap pertama program pemagangan ke Jepang angkatan 2026. Para peserta yang dinyatakan lulus nantinya akan melanjutkan ke pelatihan nasional tahap kedua di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja di Bekasi.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal membuka langsung pelatihan di Ruang Kompetensi BPSDM NTB, Senin (3/8/2026). Ia mengingatkan para calon pekerja agar terus menunjukkan progres selama mengikuti pelatihan.

Gubernur: Jangan Puas Sebelum Waktunya

Miq Iqbal, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa setiap peserta wajib mengalami kemajuan, baik dari sisi fisik, keterampilan, kedisiplinan, maupun kemampuan berbahasa Jepang. Ia meminta para peserta untuk tidak mudah merasa puas karena hal itu justru dapat menghambat perkembangan mereka.

"Kedepannya, semua harus progres. Jangan sampai mengalami penurunan. Yang bisa membuat kalian mengalami penurunan itu adalah melakukan diri puas sebelum waktunya. Jadi jangan puas, terus bekerja," tandasnya.

Bekal Literasi Keuangan dan Etos Kerja

Selain kesiapan teknis, Gubernur juga menyoroti pentingnya pengelolaan keuangan bagi para calon pekerja migran. Ia berpesan agar penghasilan yang diperoleh selama di Jepang tidak dihabiskan untuk hal-hal konsumtif, melainkan diarahkan untuk investasi jangka panjang.

"Masa depanmu, masa depan keluargamu, masa depan anakmu nanti. Maka jangan sampai uang ini sia-sia, jangan sampai uang ini habis lantaran gaya hidup," pesannya.

Miq Iqbal menyarankan para peserta untuk memanfaatkan skema pembiayaan KUR PMI yang tersedia di Bank NTB Syariah. Ia berharap setelah kembali ke kampung halaman, para pekerja migran tidak lagi berada dalam kondisi yang sama seperti saat berangkat, tetapi sudah memiliki aset produktif seperti rumah atau tanah.

Jepang Jadi Ajang Transfer Kultur Kerja

Menurut Miq Iqbal, nilai paling berharga dari pengalaman bekerja di Jepang adalah etos kerja dan kedisiplinan yang tinggi. Ia berharap para peserta magang dapat menyerap budaya kerja tersebut dan menularkannya kepada masyarakat di lingkungan masing-masing setelah kembali ke NTB.

"Makin banyak orang yang mencintai kedisiplinan, makin banyak orang yang menghormati kedisiplinan, maka kedisiplinan itu nanti menjadi mainstream," ujarnya.

Evaluasi Ketat di Setiap Tahapan

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB Aidy Furqan menjelaskan, pelatihan tahap pertama bertujuan membekali peserta dengan kemampuan dasar bahasa Jepang, pemahaman budaya dan etika kerja, serta penguatan mental dan fisik. Terdapat beberapa tahapan evaluasi yang harus dilalui peserta, meliputi evaluasi bahasa serta dua tahap evaluasi fisik dan kompetensi.

"Para peserta pemagangan Jepang kali ini, kami harapkan untuk maksimal memberikan kemampuan dan potensinya supaya tidak tereliminasi," harap Aidy.

Peserta yang dinyatakan lulus dalam pelatihan nasional tahap kedua akan diberangkatkan ke Jepang pada akhir tahun 2026 atau selambat-lambatnya awal 2027. Masa pemagangan berlangsung selama tiga tahun, dengan kemungkinan perpanjangan hingga lima tahun bagi peserta yang menunjukkan potensi luar biasa.

"Mereka kita harapkan menjadi bagian duta kita untuk Nusa Tenggara Barat untuk mewujudkan dan menyuarakan visi Nusa Tenggara Barat yang makmur mendunia," ungkap Aidy.

Follow lensasumbawa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kicknews.today

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks