Pencarian

Bluetooth Bernama "Bomb" Paksa United Airlines Balik ke Newark, Penumpang 16 Tahun Diperiksa FBI

Selasa, 02 Juni 2026 • 18:01:01 WIB
Bluetooth Bernama
Pesawat United Airlines kembali ke Newark setelah sinyal Bluetooth mencurigakan terdeteksi.

Pilot pesawat terdengar menyebut tindakan penumpang itu "konyol" dalam rekaman yang beredar di media sosial. "Kami kembali ke Newark karena ada satu penumpang yang tampaknya membuat lelucon lucu yang tidak lucu sama sekali," ujar sang pilot dalam video yang diunggah akun TikTok CNN. "Ini akan membahayakan keselamatan penerbangan ini."

Setelah nama perangkat mencolok itu muncul, kru meminta seluruh penumpang mematikan perangkat Bluetooth — namun sinyal tetap terdeteksi. Pesawat akhirnya mendarat kembali tiga setengah jam setelah lepas landas. Pihak bandara langsung mengisolasi pesawat di area khusus untuk pemeriksaan keamanan menyeluruh.

Ancaman Nyata atau Candaan Remaja?

Perangkat yang dimaksud adalah Fitbit milik remaja berusia 16 tahun. Hingga saat ini, ia belum dikenakan tuntutan. Namun Biro Investigasi Federal (FBI) masih menyelidiki kasus ini untuk menentukan apakah ada unsur kesengajaan yang melanggar hukum.

Meski mengucapkan kata "bomb" di pesawat bukanlah tindakan ilegal, Pasal 35 U.S.C. 18 mengkategorikan "bomb hoax" — penyebaran informasi palsu tentang upaya menghancurkan pesawat — sebagai tindak kejahatan berat. Ancaman hukumannya maksimal denda 5.000 dolar AS (sekitar Rp 80 juta) atau penjara lima tahun, atau keduanya.

Namun, karena remaja tersebut tidak secara langsung mengancam penumpang atau membuat pernyataan palsu secara verbal, kasusnya mungkin tidak memenuhi definisi bomb hoax. Preseden sebelumnya menunjukkan bahwa tuntutan biasanya diajukan untuk ancaman lisan atau tulisan yang eksplisit, seperti seseorang yang mengatakan memiliki bom di kopernya atau menulis ancaman di kantong muntah.

Biaya Mahal dari Candaan Keamanan Penerbangan

Insiden semacam ini bukanlah hal baru. Ancaman bom di pesawat sudah ada sejak era 1930-an dan sebagian besar tidak serius. Namun protokol keselamatan mewajibkan pesawat mendarat di bandara terdekat, menuju area terisolasi, dan melakukan pencarian menyeluruh — sebuah proses yang sangat mahal bagi maskapai.

Dengan teknologi keamanan bandara dan ketatnya aturan TSA terhadap baterai serta gawai elektronik, menyelundupkan bom ke dalam pesawat kini hampir mustahil. Tapi karena konsekuensi ledakan di ketinggian 30.000 kaki bisa fatal, setiap indikasi ancaman — sekecil apapun — tidak bisa diabaikan. Bagi penumpang yang hanya ingin pulang, lelucon digital semacam ini bukan sekadar tidak lucu: ia merugikan waktu, uang, dan rasa aman banyak orang.

Bagikan
Sumber: slashgear.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks