DOMPU — Lahan pertanian di Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, didominasi tanaman sayur-mayur dan jambu mete. Padi hanya ditanam sekali dalam setahun karena keterbatasan pola tanam. Kondisi tanah yang poros membuat kebutuhan air untuk pertanian cukup tinggi, tetapi sumber air pegunungan dinilai masih mencukupi.
Karakter lahan dan ketersediaan air membuat sebagian besar petani Kadindi memilih komoditas yang lebih sesuai dengan kondisi alam setempat. Tebu dinilai lebih cocok dikembangkan di lahan kering atau kebun yang sudah kurang produktif.
"Kalau yang paling banyak di desa kami adalah pertanian mete dan sayur-mayur," kata Doriwanto.
Pilihan itu berbeda dari sejumlah wilayah lain di Pekat yang menghadapi kesulitan air. Warga Kadindi masih mengandalkan sumber air pegunungan untuk aktivitas pertanian sehari-hari.
Kehadiran PT SMS dan bertambahnya aktivitas di kawasan sekitar menciptakan permintaan baru bagi hasil pertanian warga. Pedagang yang memasok kebutuhan ke kawasan perusahaan mengambil sebagian barang dari petani Kadindi.
Doriwanto menilai pasokan lokal lebih menguntungkan dibanding mendatangkan sayur dari Lombok, Dompu, atau Bima. "Daripada menunggu sayur-mayur datang dari Lombok, Dompu atau Bima, lebih baik petani kita yang menanam dan menyediakan kebutuhan tersebut. Pasarnya juga sudah ada di sekitar desa," ujarnya.
Keberadaan satuan TNI di kawasan Pekat turut menambah peluang pasar. Kebutuhan konsumsi yang besar membuat hasil pertanian warga punya pembeli yang lebih dekat.
Masyarakat Kadindi tergolong majemuk, dengan warga asal Lombok, Bima, Dompu, hingga Bali yang membawa pengalaman bertani masing-masing. Keragaman keterampilan itu menopang aktivitas ekonomi desa.
"Alhamdulillah, adanya pasar bagi pertanian kami membuat pendapatan masyarakat meningkat. Kebutuhan dasar rumah tangga juga sudah terpenuhi," kata Doriwanto.
Sejumlah anak muda mulai membuka usaha, dari bengkel hingga UMKM. Lapangan pekerjaan tersedia bagi warga yang mau bekerja di sektor pertanian maupun usaha lain.
Desa Kadindi kini memiliki sekitar 1.600 hingga 1.700 kepala keluarga. Desa tersebut sebelumnya satu wilayah dengan Kadindi Barat sebelum pemekaran.
Doriwanto berharap perkembangan industri tebu di Dompu membawa perubahan lebih baik bagi kesejahteraan warga Pekat. Ia juga meminta pemerintah daerah konsisten mendukung petani melalui penyuluhan dan peningkatan kapasitas.
"Harapan kami dari tebu ini ada perubahan yang lebih baik, membawa ke arah kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Pekat pada umumnya maupun Desa Kadindi," ujarnya.
Bagi Kadindi, dampak pengembangan kawasan tebu tidak selalu diukur dari luas lahan tebu. Perputaran ekonomi di sekitar kawasan membuka ruang bagi komoditas lain, dan petani tidak perlu membawa hasil panen jauh keluar daerah untuk mencari pembeli.