Sanksi AS Kacaukan Rute Penerbangan Iran, Traveler Diminta Pantau Jadwal

Penulis: Prayoga Santana  •  Kamis, 24 September 2026 | 11:19:30 WIB
Maskapai Iran menghentikan sejumlah penerbangan internasional setelah Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap industri penerbangan negara itu.

NUSA TENGGARA BARAT — Maskapai Iran mulai menghentikan sejumlah penerbangan internasional setelah Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap industri penerbangan negara itu. Georgia dan Azerbaijan mengonfirmasi penghentian layanan, sementara rute ke Baghdad, Muscat, dan Qatar ikut terdampak. Traveler yang hendak ke Iran diminta memantau jadwal secara berkala karena situasi masih berubah-ubah.

Kebijakan baru yang diumumkan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent pada Senin (21/9) langsung berdampak pada operasional maskapai Iran. Sejumlah rute internasional dihentikan mulai Rabu, dan seorang agen perjalanan di Teheran menyebut pembatalan juga menimpa penerbangan menuju Baghdad, Muscat, serta Qatar.

Bessent mengklaim sekitar 80 hingga 90 persen penerbangan internasional dari Iran terdampak kebijakan tersebut. "Kami sedang menekan Iran dengan cara yang belum pernah mereka alami sebelumnya," katanya kepada Fox News.

Rute yang Masih Beroperasi

Tidak semua jalur penerbangan terputus. Data FlightRadar24 menunjukkan pesawat Mahan Air berhasil mendarat di Guangzhou, China, pada Rabu. Penerbangan Teheran-Shanghai juga masih dijadwalkan, begitu pula rute menuju Istanbul meski sebagian penerbangan lain ke kota itu dibatalkan.

Penerbangan Kabul-Teheran yang dioperasikan Mahan Air masih berlangsung. Maskapai lebih kecil seperti Varesh Airlines masih melayani rute ke Turki dan Armenia. Rute menuju Najaf di Irak dan Dubai di Uni Emirat Arab juga masih tercantum dalam jadwal.

China menolak sanksi baru tersebut dan menyebutnya langkah tidak sah. Penerbangan dari Teheran menuju Shanghai tetap dijadwalkan beroperasi.

Peringatan Iran untuk Negara yang Ikut Sanksi

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei memperingatkan negara yang bekerja sama dengan Washington. "Jika suatu negara ikut bekerja sama dengan Amerika Serikat, maka bandara mereka tidak akan lagi bisa melayani penerbangan ke Iran," katanya dalam wawancara dengan televisi pemerintah.

Kantor berita Tasnim melaporkan bandara Baghdad dan Muscat tidak lagi menerima penerbangan dari Iran. Otoritas penerbangan Iran kini membahas kemungkinan mengalihkan penerbangan tujuan Baghdad ke Najaf, salah satu kota tujuan utama peziarah asal Iran.

Di Najaf, situasinya masih relatif normal. Pengelola bandara mengaku belum menerima instruksi resmi dari pemerintah Irak untuk menghentikan layanan. Namun sejumlah sumber AFP, termasuk seorang pejabat senior Irak, menyebut Baghdad kemungkinan akan mematuhi kebijakan AS.

Dampak ke Industri Perjalanan

Haidar Shamaa, pemilik biro perjalanan di Najaf, mengatakan sebagian besar bisnis perjalanan di kota itu bergantung pada penerbangan menuju Iran. Banyak pelanggan panik dan terus mencari informasi terbaru.

Sejumlah traveler mulai mempertimbangkan perjalanan darat sebagai alternatif, meski waktu tempuhnya jauh lebih lama dibandingkan naik pesawat. Agen perjalanan di Teheran mengaku untuk sementara tidak menjual tiket karena khawatir terjadi pembatalan mendadak.

Presiden Iran Massoud Pezeshkian, yang tengah berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB, menegaskan negaranya tidak akan menyerah. "Perlawanan rakyat Iran hanya akan semakin kuat menghadapi sanksi, tekanan, dan intimidasi dari Amerika Serikat," katanya.

Sektor penerbangan Iran sebenarnya sudah lama hidup di bawah bayang-bayang sanksi. Karena itu, masih belum jelas berapa banyak negara yang benar-benar akan mengikuti kebijakan Washington. Traveler yang berencana ke Iran sebaiknya mengonfirmasi status penerbangan langsung ke maskapai atau agen resmi sebelum berangkat.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top