Elnusa Geber Survei Seismik 2.500 Km² di Selat Makassar, Bidik Pasar Non-Pertamina

Penulis: Taufik Rahman  •  Senin, 14 September 2026 | 08:48:01 WIB
Pekerja Elnusa mengoperasikan peralatan seismik laut dalam survei 3D Kandawulo di Selat Makassar.

NUSA TENGGARA BARATParuh pertama 2026 jadi periode sibuk bagi PT Elnusa Tbk (ELSA). Entitas Grup Pertamina itu merampungkan akuisisi data seismik lepas pantai 3D Kandawulo di perairan Selat Makassar hanya dalam 56 hari, jauh lebih cepat dari target awal 76 hari. Sepanjang proses tersebut, Elnusa mencatat 99.120 jam kerja aman tanpa kecelakaan.

Survei di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat itu menyisir area seluas 2.500 kilometer persegi untuk memetakan struktur geologi dan potensi sumber daya migas. Elnusa mengoperasikan teknologi seismik laut dalam dengan metode marine streamer agar data bawah permukaan yang diperoleh lebih detail dan akurat.

Dari Data Mentah ke Titik Pengeboran

Akuisisi data bukan akhir pekerjaan. Elnusa lantas mengolah hasil survei memakai metode Pre Stack Time Migration (PSTM) selama sekitar enam bulan. Tim geosains membedah struktur bawah permukaan dan karakteristik batuan, sekaligus mencari indikasi keberadaan hidrokarbon.

Hasil pengolahan itu menjadi salah satu acuan bagi pemilik wilayah kerja untuk menentukan area eksplorasi hingga titik pengeboran berikutnya. Artinya, percepatan 20 hari di lapangan ikut memangkas waktu tunggu klien sebelum bisa mengambil keputusan investasi pengeboran.

Musi Banyuasin, Ujian Berat di Daratan

Jejak seismik Elnusa bergerak dari laut lepas ke daratan Sumatera Selatan. Pada 3 September 2026, perseroan mengantongi dua proyek Survei Seismik 3D dengan total area sekitar 150 kilometer persegi di Kabupaten Musi Banyuasin. Proyek yang ditargetkan rampung awal 2027 itu datang dari pelanggan di luar Grup Pertamina, melanjutkan dua pekerjaan sebelumnya seluas 365 kilometer persegi di area berdekatan.

Untuk menggarapnya, Elnusa mengoptimalkan STRYDE Nimble Seismic System, teknologi yang diperkuat perusahaan sejak awal 2026. Perseroan sebelumnya berinvestasi pada 25.000 STRYDE Range+ nodes yang didukung STRYDE Nimble System dan STRYDE Mini System.

Teknologi nodal memungkinkan akuisisi data seismik berdimensi lebih rapat, mempercepat siklus survei, dan menekan biaya operasi. Perangkatnya ringkas dan fleksibel, sehingga lebih mudah dibawa ke medan dengan akses terbatas.

Kondisi lapangan Musi Banyuasin memang tidak ringan. Area survei melintasi kawasan hutan, aliran sungai, area pertambangan, hingga permukiman warga. Medan seperti itu menuntut perencanaan survei adaptif, kesiapan personel dan teknologi, serta disiplin operasi yang ketat.

Pasar Non-Pertamina Mulai Menopang Pendapatan

Corporate Secretary Elnusa Rustam Aji menyebut proyek lanjutan dari pelanggan non-Pertamina sebagai bukti kapabilitas perusahaan bersaing di pasar eksternal.

"Ke depan, teknologi tidak berhenti sebagai peningkatan kapabilitas, tetapi harus mampu meningkatkan efisiensi, menjawab kebutuhan pelanggan, dan memperluas pasar," kata Rustam.

Sepanjang semester pertama 2026, sekitar 22% pendapatan Elnusa berasal dari pelanggan pihak ketiga. Perseroan menyelesaikan akuisisi data seismik 3D seluas 1.757 km² dan survei seismik 2D sepanjang 193 km pada periode yang sama.

Di lini jasa hulu lain, Elnusa merampungkan wireline logging pada 662 sumur dan well testing di lebih dari 3.800 sumur, serta mengoperasikan hydraulic workover unit pada 112 sumur.

Dari sisi kontrak, Elnusa mengantongi pesanan baru senilai Rp 11,6 triliun selama enam bulan pertama 2026. Pada akhir Juni, masih ada carry forward contract Rp 18,8 triliun yang akan menopang aktivitas bisnis periode berikutnya. Rinciannya: Rp 9,5 triliun dari jasa hulu migas terintegrasi, Rp 2,3 triliun dari jasa penunjang migas, dan Rp 7 triliun dari penjualan barang dan jasa distribusi hingga logistik energi.

Modal Pengalaman 57 Tahun di Delapan Negara

Kapabilitas yang membawa Elnusa menembus pasar non-Pertamina di dalam negeri sebenarnya sudah teruji lebih dulu di luar negeri. Sejak 1998 di Myanmar, jejak seismik perseroan menyebar ke lebih dari delapan negara, mulai dari Libya, India, dan Brunei hingga proyek terbaru di Thailand pada 2025.

Direktur Operasi Elnusa Andri Haribowo menyatakan perseroan tetap aktif menjajaki peluang baru. Pengalaman lintas negara itu menjadi bekal Elnusa menggarap proyek dengan karakter medan dan regulasi yang beragam.

Elnusa juga berupaya mengubah kemampuan teknologi dan pengalaman operasional menjadi sumber bisnis baru. Selain STRYDE, perseroan mengembangkan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), layanan geospasial Pertapixel, dan Road Traffic Control (RTC).

Bagi pasar, deretan kontrak anyar ini memperlihatkan Elnusa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada belanja modal Pertamina. Di tengah geliat eksplorasi migas nasional, kemampuan menuntaskan survei lebih cepat sekaligus menekan biaya operasi menjadi nilai jual utama perusahaan berusia 57 tahun itu.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top