NUSA TENGGARA BARAT — Keputusan membagikan dividen di tengah pasar yang sedang lesu ini menunjukkan optimisme manajemen terhadap kinerja keuangan perseroan. Dengan jumlah saham beredar sekitar 93,33 miliar lembar, rasio pembagian dividen mencapai 20,26% dari laba bersih Bank Mandiri pada semester I 2026.
Berdasarkan harga penutupan saham BMRI di level Rp4.390 per saham, dividen interim ini memberikan imbal hasil atau dividend yield sekitar 1,50% kepada para pemegang saham.
Investor perlu mencatat sejumlah tanggal penting agar tidak terlewat. Cum date dividen untuk pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 15 September 2026. Artinya, investor yang membeli saham BMRI paling lambat pada tanggal tersebut berhak mendapatkan dividen.
Rangkaian pembayaran akan dijadwalkan berlangsung pada 2 Oktober 2026. Bagi investor yang memegang saham di pasar tunai, tanggal pencatatan atau recording date biasanya mengikuti satu hari setelah cum date di pasar reguler.
Sementara itu, emiten logistik PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) tengah menyiapkan langkah ekspansi besar. Perusahaan berencana merambah bisnis angkutan batu bara menggunakan kapal tongkang, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Langkah ini merupakan bagian dari pengembangan bisnis yang lebih luas. MPXL juga tengah menggarap perdagangan batu bara melalui anak usahanya, PT Tambang Raya Sejahtera. Dengan begitu, perseroan akan memiliki rantai bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari perdagangan hingga transportasi.
Kinerja keuangan MPXL sendiri menunjukkan tren positif. Pada semester I 2026, perseroan membukukan pendapatan Rp73,12 miliar, naik 28,80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp56,77 miliar. Segmen jasa ekspedisi menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp50,98 miliar, tumbuh 54,50% secara tahunan.
Manajemen mengungkapkan realisasi bisnis hingga saat ini telah mencapai sekitar 85% dari target yang ditetapkan untuk 2026. Namun, aktivitas perdagangan batu bara masih menghadapi tantangan berupa pembatasan RKAB di sejumlah tambang di Sumatera Selatan dan Kalimantan.
Dari sektor properti, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatatkan prapenjualan sebesar Rp1,15 triliun hingga semester I 2026. Capaian tersebut setara 55% dari target tahunan yang dipatok Rp2,08 triliun.
Permintaan lahan industri menjadi motor utama penjualan, khususnya dari sektor data center. Total permintaan lahan industri mencapai sekitar 85 hektare, dengan 75% atau sekitar 64 hektare berasal dari pengembang pusat data. Kawasan GIIC/Deltamas yang dikelola DMAS memiliki pasokan listrik premium hingga 1.000 MVA, jaringan fiber optik redundan, serta sistem daur ulang air yang menjadi daya tarik utama.
Menariknya, jumlah permintaan tersebut sudah melebihi sisa lahan industri yang hanya sekitar 25 hektare. Kondisi ini mendorong DMAS mempertimbangkan konversi sebagian lahan komersial dan residensial untuk memenuhi kebutuhan lahan data center. Perusahaan masih memiliki land bank sekitar 581 hektare per 30 Juni 2026, terdiri dari 357 hektare lahan komersial, 164 hektare residensial, dan 60 hektare lahan industri.
Di sisi pasar, aksi jual asing masih berlanjut dengan penjualan bersih Rp590,18 miliar di pasar reguler. Saham-saham seperti BUMI justru menguat 4,76%, sementara BBCA dan BBRI masing-masing melemah 1,12% dan 0,59%.