LOMBOK BARAT — Debit air di Bunut Ngengkang mulai menyusut sekitar satu bulan terakhir sebelum akhirnya benar-benar kering pada pekan-pekan ini. Kepala Desa Buwun Sejati, Muhidin, membenarkan bahwa kondisi tersebut merupakan siklus musiman yang sudah terjadi sejak lama.
“Ya benar, sekarang sudah kering. Karena memang kalau Bunut Ngengkang itu wisata musiman,” kata Muhidin kepada NTBSatu, Senin (7/9/2026).
Berbeda dengan destinasi air lainnya, Bunut Ngengkang tidak memiliki aliran permukaan. Sumber airnya muncul dari dasar bumi, sehingga kemunculannya sangat bergantung pada musim dan tidak bisa diprediksi secara pasti.
“Memang Bunut Ngengkang ini arus dalam tanah, gak ada aliran,” ujarnya.
Muhidin menjelaskan, warga setempat biasanya mengenali tanda-tanda alam sebelum air kembali mengisi kolam alami tersebut. Suara gemuruh dari dalam tanah menjadi pertanda bahwa mata air akan segera keluar kembali.
“Begitu mau datang air biasanya ada tandanya, kayak ada suara gemuruh dari dalam tanah gitu. Begitu kayak gitu, langsung sudah airnya keluar dari dasar bumi,” jelas Muhidin.
Kekeringan di Bunut Ngengkang hanyalah satu dari sekian dampak kemarau yang melanda Lombok Barat. Data dari pemerintah daerah mencatat, krisis air bersih kini telah meluas ke 62 dusun yang tersebar di 16 desa dan 6 kecamatan.
Sebanyak 6.578 kepala keluarga atau sekitar 19.337 jiwa dilaporkan kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kemarau yang diprediksi berlangsung hingga November 2026 ini juga mulai menekan sektor pertanian warga.
Ratusan hektare lahan pertanian di kabupaten tersebut kini terancam mengalami gagal panen akibat minimnya pasokan air irigasi.
Situasi berbeda terlihat di kawasan wisata Aik Nyet yang berlokasi di bagian utara Desa Buwun Sejati. Muhidin menyebut sumber air di lokasi ini masih mengalir, namun debitnya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Kecuali yang wisata Aik Nyet yang ada di Utara itu, di induknya itu, memang air tetap mengalir, cuman debitnya agak kurang,” katanya.
Meski demikian, penurunan debit di Aik Nyet menjadi indikator bahwa cadangan air tanah di wilayah Narmada dan sekitarnya terus berkurang. Pihak desa berharap pemerintah kabupaten segera melakukan langkah antisipasi, termasuk penyaluran air bersih bagi warga yang terdampak, sebelum puncak kemarau berakhir.