NUSA TENGGARA BARAT — Terminal RU VI Balongan bukan pelabuhan biasa. Dari titik inilah aliran bahan bakar untuk tiga provinsi terpadat di Indonesia — Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten — digerakkan setiap hari. Di balik operasi besar itu, ada kapal-kapal penunjang berukuran kecil yang bekerja tanpa henti memastikan tanker raksasa bisa bersandar dengan aman.
Transko Dara 3218, salah satu kapal milik PTK, bertugas memandu kapal tanker yang akan merapat atau lepas sandar. Kapal ini juga mengangkut personel menuju Single Point Mooring (SPM), pelampung terapung di lepas pantai yang menjadi tempat sandar sekaligus alat penyalur muatan cair seperti minyak bumi.
Meski ukurannya jauh lebih kecil dari tanker yang dilayani, peran Transko Dara sangat krusial. Proses sandar dan lepas sandar kapal pengangkut produk migas memiliki risiko tinggi, sehingga butuh pendampingan ketat.
"Serangkaian proses sandar maupun lepas sandar didukung oleh kapal-kapal PTK sebagai simpul dari kegiatan maritim untuk menjaga aspek keselamatan, kesiapsiagaan terhadap potensi risiko, hingga kepatuhan terhadap regulasi," ujar Vice President Legal & Relation Pertamina Trans Kontinental, Amran Reza.
Kapal ini beroperasi rata-rata tiga kali sehari, bergantian dengan kapal penunjang lain PTK di RU VI. Beban kerjanya tidak pernah berhenti — 24 jam penuh, mengikuti alur pergerakan tanker Pertamina yang datang dan pergi.
Cakupan distribusi RU VI tidak berhenti di Pulau Jawa. Dari pelabuhan ini, produk migas juga dikirim ke Pontianak, Banjarmasin, Kotabaru, hingga sejumlah wilayah di Indonesia Timur.
Artinya, keterlambatan satu kapal sandar bisa mengganggu pasokan di wilayah yang berjauhan. "Dengan cakupan distribusi energi di RU VI, layanan PTK turut berkontribusi dalam mendukung rantai distribusi energi nasional," kata Amran.
PTK saat ini mengoperasikan 370 kapal milik dan 90 kapal sewa yang tersebar di seluruh Indonesia. Perusahaan ini merupakan bagian dari Subholding Integrated Marine Logistics Pertamina, dengan empat lini bisnis: kapal penunjang, layanan maritim, operasional pelabuhan, dan penyedia pergudangan di tepi pantai (shorebase).
Keandalan armada dijaga lewat komitmen para pelaut dan tenaga profesional yang bekerja sesuai standar serta regulasi berlaku. "Kami mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan kerja," tambah Amran.
Ke depan, PTK menatap strategi 2026 yang berfokus pada penguatan bisnis inti, operational excellence, optimalisasi operasi, inovasi, transformasi digital, dan keberlanjutan. Semua itu ditekankan demi satu tujuan: menjaga kelancaran aktivitas maritim dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Kapal sekecil Transko Dara mungkin tidak terlihat dari daratan. Namun ketika BBM mengalir ke pompa-pompa bensin di Jakarta atau Banten, sebagian dari kelancaran itu adalah hasil kerja kapal yang siaga 24 jam di lepas pantai Cirebon.