NUSA TENGGARA BARAT — BRIN berkolaborasi dengan Polri untuk menguji efektivitas tepung singkong sebagai material pemadam api di area karhutla yang luas. Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan bahwa secara teoritis, penggunaan bahan tersebut masuk akal dan telah divalidasi oleh para ahli kimia molekuler di lembaganya.
"Secara saintifik sebenarnya itu [tepung singkong untuk pemadaman karhutla] hal yang masuk akal, sesuatu yang bisa," kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8).
Meski potensial, tantangan utama terletak pada penerapan di lapangan yang luasnya tidak terbatas. Arif menegaskan bahwa menaburkan tepung secara manual mustahil dilakukan untuk area kebakaran hutan yang membentang luas.
"Untuk skala besar kemudian dari sisi campuran-campuran zat-zatnya maupun dari sisi bagaimana teknik untuk memadamkannya seperti apa. Kan tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus pakai alat-alat tertentu dan sekarang sedang dikaji," ujarnya.
Tim gabungan kini fokus menentukan komposisi bahan yang tepat serta merancang peralatan penyemprot yang mampu menjangkau area terdalam titik api. Hasil uji coba ini akan menjadi dasar apakah teknologi tersebut layak direkomendasikan untuk produksi massal.
Inovasi ini bermula dari uji coba yang dilakukan Polda Kalimantan Selatan. Mereka menguji cairan berbasis pati singkong yang dicampur amonium polifosfat, air, dan zat pembasah untuk menghambat perambatan api di lahan gambut.
Air dalam campuran berfungsi menyerap panas, sementara pati singkong membuat cairan menempel lebih lama di permukaan tanah. Presiden Prabowo Subianto kemudian meminta teknologi ini diuji dalam skala lebih besar saat rapat penanganan karhutla di Palembang, Senin (24/8).
Selain material berbasis tepung, BRIN juga menyiapkan teknologi modifikasi cuaca sebagai opsi penanganan karhutla. Teknologi ini menggunakan material natrium klorida (NaCl) berukuran mikro untuk membantu proses hujan buatan.
BRIN berkoordinasi dengan TNI Angkatan Udara dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam skema ini. BRIN berperan pada sisi riset dan penyediaan material, sementara pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca dilakukan BMKG.
Arif menegaskan, arahan Presiden Prabowo kepada BRIN adalah mencari berbagai opsi teknologi untuk mengatasi bencana karhutla. "Jadi teknologi-teknologi yang muncul dari masyarakat coba kita validasi. Ternyata memang secara teori, hipotesis, yes betul [teknologi itu]. Tapi yang sekarang kita harus kita pikirkan adalah untuk skala berapa?" pungkasnya.