JAKARTA — Pemerintah melalui Kemdiktisaintek menegaskan masa depan ekonomi bangsa tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada kekuatan sumber daya manusia, kreativitas, dan inovasi teknologi. Langkah ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 yang menjadi payung hukum bagi ekosistem pendidikan tinggi untuk melahirkan peneliti, inovator, dan entrepreneur baru.
Direktur Strategi & Sistem Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menyatakan bahwa perguruan tinggi adalah fondasi utama lahirnya talenta kreatif yang menjadi penggerak ekonomi masa depan. Menurutnya, membangun ekonomi kreatif pada hakikatnya adalah membangun manusianya terlebih dahulu.
Salah satu langkah konkret yang diandalkan adalah program SMA Unggul Garuda. Sekolah ini dirancang untuk memperluas akses bagi generasi muda bertalenta dari seluruh penjuru negeri, termasuk dari NTB, agar mendapatkan pendidikan berkualitas dan siap melanjutkan studi hingga berkontribusi pada kemajuan bangsa.
“Dari talenta lahirlah gagasan, dari pendidikan tumbuhlah kompetensi, dari riset lahirlah inovasi, dari kreativitas terciptalah karya, dan dari karya itulah hadir dampak,” ujar Ardi dalam keterangan resminya, Selasa (21/1/2026).
Kemdiktisaintek menyoroti paradigma lama yang menempatkan Indonesia sekadar sebagai sasaran produk asing. Dengan ekosistem pendidikan yang kuat, negara ini diharapkan mampu berperan sebagai pencipta, bukan konsumen semata.
“Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar. Indonesia harus menjadi bangsa yang menciptakan, berinovasi, dan menjadi pemain utama di pasar dunia,” pungkas Ardi.
Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, pemerintah menghubungkan seluruh elemen pendidikan, riset, dan teknologi untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing di kancah internasional. Talenta-talenta yang lahir dari program ini nantinya diharapkan mampu berkolaborasi, menghasilkan riset, dan menciptakan karya yang menjawab kebutuhan masyarakat global.