MATARAM — SMAN 3 Mataram kembali menegaskan posisinya sebagai pionir pembelajaran bahasa Jerman di Nusa Tenggara Barat. Sekolah yang berlokasi di Jalan Pendidikan No. 25 ini resmi memperpanjang nota kesepahaman (MoU) dengan Goethe-Institut dalam program jaringan sekolah mitra PASCH (Schulen: Partner der Zukunft), Rabu (19/7).
Perpanjangan kerja sama ini berlaku untuk kurun waktu satu setengah tahun ke depan. Kepala SMAN 3 Mataram, Yuspita Martiningrum, menyebut langkah ini menjadi strategi sekolah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, khususnya penguasaan bahasa Jerman bagi para siswa.
Melalui kesepakatan baru ini, Smanti mempertahankan hak legasinya untuk menerbitkan sertifikasi bahasa Jerman tingkat dasar A1 dan A2 sesuai standar internasional. Yang lebih penting, sekolah ini kini juga ditunjuk sebagai pusat penyelenggaraan ujian sertifikasi tingkat lanjut B1 dan B2.
Penunjukan ini membuka akses lebih luas bagi masyarakat di luar lingkungan sekolah. Yuspita menjelaskan, warga dari Lombok, Bali, hingga daerah sekitarnya yang berencana ke Jerman—baik untuk bekerja, kuliah, maupun keperluan pernikahan—bisa memanfaatkan SMAN 3 Mataram sebagai lokasi tes resmi.
“Jadi kalau nanti ada masyarakat umum di Lombok, Bali, dan seterusnya, mau berangkat ke Jerman, entah itu karena menikah, bekerja, kuliah, boleh nanti SMAN 3 dijadikan tempat tesnya,” terangnya.
Kemitraan antara Smanti dan Goethe-Institut telah berjalan harmonis selama 16 tahun. Pada perpanjangan kali ini, Goethe-Institut mengundang 29 sekolah mitra dari seluruh Indonesia, termasuk SMAN 3 Mataram, untuk menandatangani perjanjian baru sekaligus menghadiri rapat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) jaringan PASCH.
Forum tersebut melahirkan sejumlah gagasan strategis, salah satunya soal optimalisasi program beasiswa ke Jerman bagi siswa. Yuspita mengaku menyuarakan pentingnya sosialisasi program beasiswa agar informasi sampai ke siswa secara merata.
“Saya di sana memberikan pendapat bahwa program beasiswa harus betul-betul disosialisasikan,” ujarnya.
Di tengah kebijakan Jerman yang membuka peluang luas bagi pelajar dan pekerja asing, Yuspita menegaskan komitmen sekolah untuk menumbuhkan minat belajar bahasa Jerman dari internal terlebih dahulu. Ia menilai kecintaan terhadap bahasa menjadi fondasi utama sebelum siswa memanfaatkan peluang di luar negeri.
“Tugas kami adalah bagaimana di internal kami dulu menumbuhkan rasa suka, cinta, senang untuk belajar bahasa Jerman. Karena memang sekarang negara Jerman ini pun membuka peluang seluas-luasnya bagi anak-anak kita agar bisa bekerja, berkuliah, atau dua-duanya di negara Jerman,” pungkasnya.
Dengan status baru sebagai pusat ujian sertifikasi, SMAN 3 Mataram tidak hanya melayani kebutuhan internal siswa, tetapi juga menjadi pintu gerbang bagi warga NTB dan wilayah Indonesia timur yang ingin melanjutkan studi atau berkarier di Jerman.