Gaya Hidup Kurang Gerak Tingkatkan Risiko Katarak dan Degenerasi Makula, Bukan Cuma Layar Gawai

Penulis: Okta Nugraha  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:25:32 WIB
Aktivitas fisik yang minim mengganggu kinerja mitokondria, sehingga melemahkan kemampuan sel-sel mata untuk memperbaiki diri.

NUSA TENGGARA BARAT — Publikasi ilmiah di jurnal Eye menyebut retina sebagai salah satu jaringan tubuh dengan kebutuhan energi paling tinggi. Jaringan ini bertugas menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal yang diteruskan ke otak, sehingga sel-selnya membutuhkan pasokan energi yang stabil setiap hari.

Masalah muncul ketika tubuh jarang bergerak. Aktivitas fisik yang minim mengganggu kinerja mitokondria, organel sel penghasil energi. Ketika produksi energi menurun, kemampuan sel-sel mata memperbaiki diri dan melindungi diri dari radiasi ultraviolet, polusi udara, serta proses penuaan alami ikut melemah.

Peradangan Kronis Mempercepat Kerusakan Jaringan Mata

Gaya hidup sedentari juga memicu peradangan kronis tingkat rendah di dalam tubuh. Kondisi ini mempercepat proses degeneratif pada jaringan mata dan meningkatkan risiko tiga gangguan penglihatan utama: katarak, degenerasi makula terkait usia, dan kerusakan retina.

Laporan dari Eating Well menegaskan bahwa dampak tersebut bisa terjadi pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan mata sama sekali. Efeknya berlangsung perlahan dan tidak langsung terasa, berbeda dengan kelelahan mata akibat menatap layar yang gejalanya muncul lebih cepat.

Kombinasi Layar dan Duduk Lama Perburuk Kesehatan Mata

Kebiasaan menatap gawai berjam-jam tanpa jeda memperparah keadaan. Mata jarang dialihkan ke objek jarak jauh, sehingga otot mata terus bekerja pada jarak dekat. Minimnya paparan cahaya alami dan sirkulasi darah yang tidak optimal akibat duduk terlalu lama turut memengaruhi kesehatan jaringan mata.

Dalam jangka panjang, kombinasi faktor ini mempercepat munculnya keluhan mata kering, kelelahan, hingga gangguan fokus. Padahal selama ini layar gawai kerap dijadikan tersangka utama ketika penglihatan mulai buram.

Kadar Gula Darah dan Risiko Retinopati Diabetik

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kaitan antara kurang gerak dan resistensi insulin. Tubuh yang jarang bergerak menjadi lebih resisten terhadap insulin, sehingga kadar gula darah cenderung berada di tingkat tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko retinopati diabetik, kerusakan pembuluh darah retina yang menjadi penyebab umum kebutaan pada penderita diabetes.

Penurunan fungsi penglihatan akibat gaya hidup sedentari merupakan akumulasi dari beberapa faktor yang berjalan bersamaan: produksi energi sel yang rendah, peradangan kronis, otot mata yang kaku, dan gangguan metabolisme gula. Upaya pencegahan yang paling masuk akal adalah memasukkan aktivitas fisik rutin di sela-sela aktivitas menatap layar, sekaligus mengalihkan pandangan ke jarak jauh secara berkala.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: curupekspress.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top