MATARAM — Langkah strategis penguatan ekosistem pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat resmi dimulai. IAIH Pancor dan YPP NWDI NTB menandatangani nota kesepahaman yang mencakup sembilan bidang kerja sama, mulai dari peningkatan mutu akademik, pelatihan tenaga pendidik, hingga program pengabdian masyarakat.
Momentum penandatanganan berlangsung di Gedung TGB Center Mataram, bertepatan dengan 2 Rabiul Awal 1448 H. IAIH Pancor diwakili Wakil Rektor I, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, sementara YPP NWDI NTB diwakili Ketua Umum Prof. Dr. H. Muslihun, M.Ag.
Kerja sama ini tidak sekadar seremonial. Kedua lembaga menyepakati program konkret yang menyentuh langsung kebutuhan madrasah dan pondok pesantren NWDI di seluruh NTB.
Sekretaris YPP NWDI NTB, Drs. H. Sahnan, M.Pd., menyebut tujuan kerja sama ini sangat mulia karena diarahkan untuk memperkuat kelembagaan madrasah dan pondok pesantren NWDI. Menurutnya, implementasi kesepahaman ini tidak mudah dan membutuhkan komitmen bersama.
“Rasa syukur yang mendalam dan kebahagiaan tak terhingga atas telah ditandatanganinya MoU antara pihak IAIH Hamzanwadi Pancor Lombok Timur dengan pihak YPP NWDI NTB,” ungkap Sahnan.
Ia menegaskan langkah pertama harus segera dimulai dengan keyakinan kedua pihak mampu mewujudkan cita-cita yang tertuang dalam dokumen MoU. “Dengan prinsip: berkolaborasi memajukan peradaban untuk kemaslahatan bersama,” tegasnya.
Wakil Rektor I IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, menilai kerja sama ini menjadi langkah nyata memperluas kontribusi perguruan tinggi terhadap penguatan pendidikan Islam di NTB. Ia menekankan pentingnya membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara kampus, madrasah, dan pesantren.
“Kerja sama ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat kualitas pendidikan Islam di NTB sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, madrasah, dan pesantren,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Umum YPP NWDI NTB, Prof. Dr. H. Muslihun, M.Ag., berharap MoU ini menjadi fondasi pengembangan sumber daya manusia yang berorientasi pada kemajuan umat.
“MoU ini menjadi fondasi bagi pengembangan sumber daya manusia, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kemajuan umat dan bangsa,” katanya.
Kehadiran TGB Dr. H. M. Zainul Majdi sebagai saksi penandatanganan menjadi simbol dukungan terhadap penguatan sinergi kelembagaan di lingkungan NWDI. Prosesi ini juga disaksikan jajaran Mustasyar PB NWDI, Dewan Pakar, Pengurus Wilayah NTB, serta sejumlah badan otonom.
Sinergi ini diharapkan tidak berhenti pada dokumen kerja sama. Kedua pihak dituntut segera menindaklanjutinya melalui program yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
Kolaborasi ini menjadi ujian nyata bagi NWDI untuk membuktikan bahwa pendidikan Islam mampu berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren, namun tetap terbuka terhadap inovasi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.