Tim Unram Latih Siswa SMA N 1 Gunungsari Rakit Listrik di Laboratorium Virtual, Belajar Fisika Tanpa Takut Konslet

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:31:01 WIB
Siswa kelas XII SMA N 1 Gunungsari mengikuti pelatihan merakit rangkaian listrik melalui laboratorium virtual yang dipandu tim pengabdian masyarakat Universitas Mataram (Unram) di Giri Menang, Sabtu (8/8/2026).

GIRI MENANG — Praktikum listrik yang selama ini identik dengan sengatan arus dan risiko konslet kini bisa dilakukan tanpa rasa cemas. Tim pengabdian masyarakat Universitas Matram (Unram) memperkenalkan metode baru bagi pelajar di Lombok Barat dengan mengintegrasikan laboratorium virtual ke dalam pembelajaran konvensional.

Pelatihan yang berlangsung Sabtu (8/8/2026) ini diikuti siswa kelas XII dan dipimpin langsung oleh Wahyudi, S.Si., M.Si., bersama anggota tim Prof. Ahmad Harjono, Dr. Muh. Makhrus, Dr. Satutik Rahayu, serta Fathurrahman, M.Pd.

Merangkai Rangkaian Tanpa Takut Salah Sambung

Dalam pelatihan ini, para siswa diajak bereksperimen dengan berbagai konfigurasi rangkaian listrik melalui simulasi digital. Mereka bisa mengamati perubahan arus dan tegangan secara langsung, lalu mengulang percobaan berkali-kali tanpa khawatir merusak komponen atau menyebabkan korsleting.

“Laboratorium virtual tidak dimaksudkan untuk menggantikan praktikum secara langsung, tetapi menjadi media pendukung yang memungkinkan siswa memahami konsep dan mencoba berbagai kemungkinan rangkaian sebelum atau sesudah melakukan praktikum secara nyata,” jelas Wahyudi.

Pendekatan ini dianggap menjawab masalah klasik dalam pembelajaran fisika. Kesalahan penyambungan komponen yang kerap menjadi momok bagi siswa pemula tidak lagi menjadi hambatan, karena semua simulasi berjalan aman di layar komputer.

Teknologi sebagai Jembatan, Bukan Sekadar Permainan

Selain praktik langsung, Dr. Satutik Rahayu, M.Pd. memberikan penguatan materi mengenai aplikasi dan platform gratis yang bisa diakses siswa untuk belajar mandiri di rumah. Ia menekankan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan harus diarahkan pada pemahaman konseptual.

“Teknologi dapat menjadi jembatan bagi siswa untuk menghubungkan konsep fisika yang bersifat abstrak dengan fenomena yang dapat mereka amati melalui simulasi. Yang terpenting adalah bagaimana virtual lab digunakan secara terintegrasi dengan pembelajaran, bukan sekadar sebagai permainan simulasi,” ujarnya.

Para siswa tampak antusias mengikuti pelatihan. Mereka diarahkan untuk mengamati fenomena, menyusun rangkaian, mencatat hasil, dan menghubungkan hasil simulasi dengan teori yang telah dipelajari di kelas.

Solusi Keterbatasan Alat Praktikum di Sekolah

Tim pengabdian berharap metode ini dapat menjadi alternatif bagi sekolah dalam memberikan pengalaman praktikum yang lebih fleksibel. Pasalnya, tidak semua sekolah memiliki laboratorium fisika dengan peralatan lengkap dan memadai.

Dengan adanya laboratorium virtual, keterbatasan alat, waktu, maupun kesempatan untuk melakukan percobaan langsung tidak lagi menjadi penghalang. Siswa tetap bisa mendapatkan pengalaman merakit dan menguji rangkaian listrik secara komprehensif.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top