NUSA TENGGARA BARAT — Pemerintah mencatat tiga indikator ekonomi yang dirilis awal pekan ini menunjukkan fundamental yang solid. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut inflasi yang terkendali, ekspansi manufaktur, dan perbaikan kinerja eksternal sebagai bukti daya tahan ekonomi nasional. "Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan dunia usaha, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional," ujarnya dalam siaran pers resmi, Senin (3/8).
Penurunan tekanan harga utama berasal dari komoditas pangan strategis. Harga bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit turun seiring peningkatan produksi nasional. Keberhasilan ini disebut Airlangga sebagai hasil sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) bersama Bank Indonesia.
Struktur impor yang didominasi bahan baku dan barang modal justru dibaca positif oleh pemerintah. Hal ini mencerminkan aktivitas produksi yang meningkat dan investasi yang mengalir masuk. Sementara itu, ekspor tetap ditopang kuat oleh minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, serta kontribusi industri pengolahan yang konsisten.
Airlangga merinci, pendorong utama adalah masuknya pesanan baru yang memaksa peningkatan output. Perusahaan manufaktur juga mulai menambah tenaga kerja dan mencatatkan akumulasi backlog pesanan tertinggi sejak November 2025. Perbaikan rantai pasok turut memperkuat optimisme industri pengolahan nasional.
Pemerintah berkomitmen menjaga momentum ini dengan memperkuat ketahanan pangan lewat Gerakan Pangan Murah dan stabilisasi pasokan, serta ketahanan energi melalui mandatori Biodiesel B50 dan hilirisasi sumber daya alam. Kombinasi kebijakan ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menarik investasi baru.