Inflasi Juli 2026 Terkendali di 2,88%, Neraca Dagang dan PMI Manufaktur Kirim Sinyal Ekspansi

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:55:31 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pernyataan terkait indikator ekonomi nasional dalam siaran pers resmi di Nusa Tenggara Barat, Senin (3/8).

NUSA TENGGARA BARAT — Pemerintah mencatat tiga indikator ekonomi yang dirilis awal pekan ini menunjukkan fundamental yang solid. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut inflasi yang terkendali, ekspansi manufaktur, dan perbaikan kinerja eksternal sebagai bukti daya tahan ekonomi nasional. "Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan dunia usaha, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional," ujarnya dalam siaran pers resmi, Senin (3/8).

Penurunan Inflasi Didorong Harga Pangan yang Melandai

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi inti tetap terjaga di level 2,76%, menunjukkan tidak ada gangguan permintaan domestik. Namun, inflasi administered prices masih berada di 3,58% akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan tarif angkutan udara.

Penurunan tekanan harga utama berasal dari komoditas pangan strategis. Harga bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit turun seiring peningkatan produksi nasional. Keberhasilan ini disebut Airlangga sebagai hasil sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) bersama Bank Indonesia.

Neraca Dagang Menyempit, Impor Bahan Baku Justru Naik

Meski neraca perdagangan Juni 2026 masih mencatat defisit US$0,45 miliar, angka ini membaik tajam dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei. Secara kumulatif, semester pertama tahun ini masih surplus US$3,58 miliar, ditopang surplus nonmigas sebesar US$19,35 miliar.

Struktur impor yang didominasi bahan baku dan barang modal justru dibaca positif oleh pemerintah. Hal ini mencerminkan aktivitas produksi yang meningkat dan investasi yang mengalir masuk. Sementara itu, ekspor tetap ditopang kuat oleh minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, serta kontribusi industri pengolahan yang konsisten.

Manufaktur Bangkit: PMI 50,2 dan Perusahaan Kembali Rekrut Pekerja

Sinyal paling kuat datang dari sektor riil. PMI Manufaktur Indonesia melonjak ke 50,2 pada Juli 2026, setelah sempat terpuruk di angka 46,9 pada Juni. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, dan ini adalah kali pertama sejak Februari 2026.

Airlangga merinci, pendorong utama adalah masuknya pesanan baru yang memaksa peningkatan output. Perusahaan manufaktur juga mulai menambah tenaga kerja dan mencatatkan akumulasi backlog pesanan tertinggi sejak November 2025. Perbaikan rantai pasok turut memperkuat optimisme industri pengolahan nasional.

Pemerintah berkomitmen menjaga momentum ini dengan memperkuat ketahanan pangan lewat Gerakan Pangan Murah dan stabilisasi pasokan, serta ketahanan energi melalui mandatori Biodiesel B50 dan hilirisasi sumber daya alam. Kombinasi kebijakan ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menarik investasi baru.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: idnfinancials.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top