SUMBAWA BESAR — Produksi rumput laut di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sedang tertekan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat, mengungkapkan anjloknya angka produksi dalam dua tahun terakhir membuat sejumlah pembudidaya memilih beralih ke komoditas lain.
“Di tahun 2024 produksi kita mencapai 300.000 ton dan di tahun 2025 hanya 153.000 ton. Bahkan hingga semester pertama di tahun 2026 produksi kita baru sekitar 36.000 ton,” kata Rahmat Hidayat kepada Suara NTB, Senin (3/8).
Rahmat menjelaskan, penurunan produksi ini terjadi karena banyak sentra produksi yang tidak lagi beroperasi. Dari puluhan lokasi yang tersebar, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan. Kondisi ini diperparah dengan bibit rumput laut yang sudah berumur tua dan belum pernah dilakukan peremajaan.
“Jadi bibit yang ada di kita sudah ada sejak beberapa tahun lalu dan belum ada peremajaan. Termasuk kualitas perairan kita yang mulai terganggu,” ujarnya.
Menurutnya, bibit yang tidak tahan terhadap perubahan iklim perairan laut menjadi faktor utama rumput laut mudah rontok dan rusak. Beberapa pembudidaya yang mencoba melanjutkan usaha sempat melakukan pembibitan ulang, namun hasilnya gagal total karena bibit kembali rusak.
Dislutkan Sumbawa juga menyoroti aktivitas di darat yang berdampak langsung pada ekosistem laut. Keluhan dari pelaku usaha menyebutkan, aktivitas penanaman jagung yang berdekatan dengan lokasi budi daya menjadi salah satu pemicu kerusakan.
“Penanaman jagung kan biasanya menggunakan pestisida, ketika terjadi hujan maka endapan pestisida yang ada di tanah langsung terbawa ke laut,” terang Rahmat.
Selain pestisida, aktivitas pemurnian emas ilegal juga menjadi perhatian serius. Penggunaan bahan berbahaya di lokasi yang berdekatan dengan area budi daya dinilai turut mempercepat penurunan kualitas air laut di Sumbawa.
Rahmat menegaskan, persoalan ini tidak bisa diselesaikan Dislutkan seorang diri. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk memastikan kualitas perairan tetap terjaga, sehingga produksi rumput laut bisa kembali pulih.
“Faktor-faktor inilah yang menjadi penyebab produksi rumput laut kita cenderung turun. Inilah yang menjadi tugas kita bersama untuk menjaga kualitas perairan agar produksi kita bisa meningkat,” pungkasnya.