1.476 Tim Ekspedisi Patriot Diterjunkan ke Kawasan Transmigrasi, Kementrans Targetkan Pusat Ekonomi Baru Berbasis Potensi Lokal

Penulis: Prayoga Santana  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 19:07:01 WIB
peserta Tim Ekspedisi Patriot 2026 dilepas Kementerian Transmigrasi untuk memetakan potensi kawasan transmigrasi di Indonesia.

JAKARTA — Kementerian Transmigrasi mengirimkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 ke berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia. Mereka bertugas memetakan potensi daerah, memperkuat kapasitas masyarakat, dan menjembatani kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta dunia usaha.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan program ini mengubah cara pandang lama tentang transmigrasi. Keberhasilan kini diukur dari jumlah lapangan kerja yang tercipta dan investasi yang masuk, bukan sekadar jumlah warga yang dipindahkan.

“Keberhasilan transmigrasi tidak lagi diukur dari berapa banyak orang yang dipindahkan, tetapi dari berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, investasi yang masuk, dan masyarakat yang semakin sejahtera. Itulah paradigma baru transmigrasi yang sedang kami bangun,” ujarnya saat pelepasan di Jakarta, Rabu (29/7).

Target: Kawasan Transmigrasi Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Kementerian Transmigrasi menargetkan kawasan transmigrasi tidak hanya menjadi tempat tinggal, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Model ini mengandalkan pengembangan industri berbasis potensi lokal dan hilirisasi.

M. Iftitah menyebut pendekatan tersebut mulai membuahkan hasil di Kawasan Transmigrasi Toriwang, Kabupaten Halmahera Utara. Investasi pada industri pengolahan kelapa di sana telah membuka ribuan lapangan kerja dan diproyeksikan menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Model serupa akan direplikasi di kawasan transmigrasi lain, termasuk yang berada di Nusa Tenggara Barat. Identifikasi peluang pengembangan kawasan menjadi tugas utama para peserta TEP selama masa penugasan.

Mengapa Keterlibatan Akademisi Diperlukan?

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut Indonesia menghadapi tantangan global, mulai dari dinamika geopolitik, disrupsi teknologi, hingga krisis iklim. Peran akademisi menjadi penting untuk menjawab persoalan tersebut.

“Program ini menghadirkan talenta-talenta terbaik Indonesia untuk mengabdi kepada masyarakat. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan,” kata AHY dalam sesi Town Hall di Jakarta.

Ia mendorong peserta TEP tidak hanya menjadi peneliti yang menghasilkan laporan, tetapi tampil sebagai pemimpin transformatif. Kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan produktivitas menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045.

Sinergi Lintas Kementerian untuk Percepatan Pembangunan

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan Presiden Prabowo Subianto menginginkan revitalisasi pembangunan di kawasan transmigrasi. TEP ditugaskan memetakan persoalan di lapangan, lalu hasilnya disinergikan dengan kementerian terkait.

Contohnya, perbaikan sekolah rusak akan dikoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kebutuhan alat pertanian, pupuk, dan bibit bagi petani akan diteruskan ke Kementerian Pertanian. Perbaikan jalan rusak disinergikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum.

“Dengan sinergi maka berbagai kendala di kawasan transmigrasi bisa dituntaskan,” ujar Viva Yoga.

Papua Jadi Fokus Penempatan Terbesar

Sebanyak 1.200 personel TEP ditempatkan khusus di Papua. Mereka akan bertugas di 10 kawasan transmigrasi untuk memperkuat pendidikan, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan mempercepat pengembangan ekonomi kawasan.

Penempatan ini merupakan tindak lanjut aspirasi pemerintah daerah dan masyarakat Papua yang menginginkan dukungan sumber daya manusia unggul. Peserta TEP juga diharapkan memaksimalkan inovasi dan kreasi selama bertugas di lapangan.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: radarlombok.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top