SUMBAWA BARAT — Kehadiran industri tambang di Batu Hijau tidak hanya mengubah lanskap ekonomi dari sektor agraria menjadi motor penggerak regional, tetapi juga mengisi kas daerah dengan angka yang signifikan. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) KSB, Ari Hadiarta, memaparkan bahwa total kontribusi pajak dari seluruh sektor mencapai Rp 180 miliar pada 2025, dengan PT AMMAN sebagai penyumbang utama.
“Yang pasti PT AMMAN mineral itu adalah wajib pajak tentu saja memberi banyak kontribusi pajak bagi daerah ini,” jelas Ari Hadiarta saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2026).
Selain pajak langsung, kas daerah KSB juga menerima aliran dana segar dari bagi hasil atas keuntungan bersih perusahaan. Nominalnya mencapai Rp 98 miliar, yang menjadi modal penting bagi pemda untuk menjaga stabilitas fiskal dan menjalankan program-program kemasyarakatan di tingkat akar rumput.
Namun, Ari Hadiarta mengingatkan adanya potensi pergeseran status daerah. Ketika status KSB berubah dari daerah penghasil menjadi daerah bukan penghasil, konsekuensi logisnya adalah penurunan dana bagi hasil sekitar sepertiga dari porsi yang selama ini diterima. “Kondisi inilah yang menuntut kita semua untuk mulai merumuskan langkah-langkah mitigasi sejak dini,” tuturnya menekankan pentingnya efisiensi dan inovasi pendapatan.
Ekosistem finansial ini diperkuat oleh komitmen investasi sosial perusahaan melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Alokasi dana CSR pada periode sebelumnya tercatat berkisar pada angka Rp 100 miliar. Dana kemitraan ini disalurkan secara terukur untuk membiayai pemberdayaan ekonomi, pembangunan fasilitas komunitas, peningkatan mutu kesehatan, dan beasiswa pendidikan bagi putra-putri daerah.
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, menjelaskan bahwa orientasi program dampak sosial perusahaan difokuskan pada upaya menciptakan kemandirian masyarakat. Perusahaan memandang bahwa keberhasilan investasi sosial tidak diukur dari seberapa besar dana yang dikucurkan, melainkan dari seberapa tangguh masyarakat lokal bertahan dan berkembang tanpa ketergantungan mutlak pada operasional tambang.
“Kami berkomitmen memastikan kehadiran AMMAN memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat,” ujar Aji.
Kehadiran industri skala besar ini memicu efek pengganda yang menggerakkan roda perekonomian lokal. Penyerapan tenaga kerja massal dan penciptaan rantai pasok lokal menjadi bukti nyata multiplier effect tersebut. Melalui kolaborasi strategis antara manajemen AMMAN dan Pemkab Sumbawa Barat, investasi sosial disinergikan dengan kebijakan diversifikasi ekonomi untuk memastikan kemakmuran tetap berlanjut di Bumi Pariri Lema Bariri saat siklus tambang memasuki fase akhir.