Dua Museum Desa di Lombok Barat Simpan Keris Pusaka hingga Alat Tenun, Jadi Sak Bisu Peradaban yang Terawat Swadaya

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 13:27:31 WIB
Dua museum desa di Lombok Barat menyimpan keris pusaka dan alat tenun sebagai warisan budaya masyarakat.

MATARAM — Di tengah hamparan sawah hijau dan rimbunnya pohon mangga serta kelapa di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, dua museum desa berdiri sebagai penjaga memori kolektif masyarakat. Keduanya dikelola secara swadaya oleh warga setempat, tanpa sokongan dana besar dari pemerintah.

Museum pertama berada di Dusun Batu Kumbung, dirintis oleh Haji Mundri, 86 tahun. Di dalam ruang koleksi sederhana itu tersimpan keris, tombak, manuskrip kuno, naskah lontar, kain tradisional, hingga catatan dakwah para tokoh agama masa lalu. Museum ini masuk kategori Museum Pusaka atau Warisan Budaya karena fokus pada benda bernilai sejarah dan simbolik.

Brankas Tua yang Sulit Dibuka

Salah satu cerita menarik muncul dari brankas tua di museum tersebut. Menurut Haji Sanusi, salah seorang pengelola, beberapa keris pusaka tidak bisa dikeluarkan sembarangan.

“Kadang-kadang susah sekali dibuka. Seolah-olah ada yang menjaganya. Hari ini ada dua keris terbaik yang bisa dikeluarkan. Biasanya jarang sekali diperlihatkan,” ujarnya sambil tersenyum.

Terlepas dari keyakinan yang menyertai benda pusaka itu, keris-keris tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Bagi dunia permuseuman, keris bukan sekadar senjata, melainkan representasi teknologi metalurgi tradisional dan simbol status sosial masyarakat Nusantara.

Museum Kedua: Dokumentasi Kehidupan Rakyat Biasa

Perjalanan berlanjut ke Desa Golong. Museum kedua yang dikelola Haji Sanusi menyimpan perspektif berbeda. Di sana terdapat alat memasak tradisional, peralatan pertanian, lampu minyak, alat tenun, dan perkakas rumah tangga yang pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Lombok.

Dalam klasifikasi permuseuman, museum ini disebut Museum Etnografi atau Museum Kehidupan Rakyat. Fungsinya mendokumentasikan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat dalam keseharian mereka — mulai dari cara memasak, bertani, menenun, hingga beribadah.

“Kami masih merintis museum ini. Sudah ada legalitasnya, sudah ada notarisnya. Ke depan kami ingin didigitalisasi, dibuat virtual, agar generasi muda bisa mengenalnya,” kata Haji Mundri.

Penjaga Memori yang Bekerja dalam Senyap

Haji Mundri berharap pemerintah hadir mendukung para penjaga warisan budaya yang selama ini bekerja mandiri. Menurutnya, mereka yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi untuk menyelamatkan benda-benda sejarah semestinya memperoleh perhatian lebih besar.

Program Museum Masuk Desa dari Dinas Kebudayaan Provinsi NTB menjadi angin segar. Kunjungan lapangan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk menghubungkan museum desa dengan ekosistem kebudayaan yang lebih luas.

Selama ini perhatian publik sering terpusat pada museum besar di ibu kota provinsi. Padahal, ribuan artefak penting justru tersebar di desa-desa dan dirawat oleh masyarakat secara swadaya. Museum desa tidak sekadar tempat penyimpanan benda lama, melainkan ruang yang menjaga hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Reporter: Sigit Wicaksono
Back to top